Selasa, 22 November 2011

Fallschirmjäger, Divisi Penerjun Pertama yang Melakukan Penerjunan Besar-besaran



Pasukan Fallschirmjäger

Dengan dikeluarkannya Treaty of Versailles pada tanggal 7 Mei 1919, Jerman dilarang memiliki AU dan hanya diperbolehkan memiliki 100.000 tentara (Reichswehr, pertahanan negara). Meskipun ada larangan, di akhir 1920-an Jerman diam-diam bekerja sama dengan Rusia. Mereka membuat area uji coba dan pelatihan yang terletak di dalam perbatasan Rusia di Lupesk.

Di waktu yang sama, olahraga gliding sedang terkenal di Jerman. Karena sekadar kegiatan olahraga, gliding betul-betul dilegalkan. Namun kenyataannya, cikal bakal Luftwaffe (AU) ilegal lahir dari olahraga ini. Dari asosiasi gliding muncul rencana Luftwaffe masa depan. lnilah yang kemudian menyediakan alat untuk AU yang baru.

Januari 1933 Adolf Hitler diangkat menjadi Kanselir Jerman. Pengangkatan ini disusul penolakan Jerman atas Treaty of Versailles pada Maret 1935. Dikeluarkanlah perintah wajib militer yang berarti mengganti Reichswehr dengan Wehrmacht (Angkatan Bersenjata). Tahun berikutnya (1936), Jerman mengirim pasukan untuk mengambil kembali Rheinland. Peristiwa ini menjadi peluang bagi Herman Goring untuk mengembangkan Luftwaffe (Angkatan Udara) termasuk Fallschirmjäger.

Fallschirmjäger adalah pasukan terjun payung Jerman yang pertama kali dalam sejarah melakukan pendaratan dengan parasut dari udara dalam skala besar-besaran. Penerjunan pasukan dalam perang ketika itu merupakan hal yang biasa. Tetapi Fallschirmjäger-lah yang mempelopori operasi penerjunan besar-besaran seperti yang dilakukan oleh Jendral Kurt Student untuk merebut pulau Kreta, Yunani pada tahun 1941.

Dalam perebutan pulau Kreta, banyak penerjun Jerman yang gugur. Rencana penerjunan Jerman rupanya telah diketahui oleh pihak Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Yunani sendiri. Untuk itu, mereka menyiapkan kanon-kanon tersembunyi untuk menembak jatuh pesawat-pesawat glider yang mengangkut para penerjun Jerman.

Peta Penyerbuan Jerman ke Pulau Kreta

Untuk membantu penerjunan, Jerman mengirimkan 300 pesawat bomber, 250 pesawat dive bomber Ju-87 "Stuka", dan 300 pesawat fighter Messerschmitt Bf-109. Setelah berhari-hari terjebak dalam pertempuran di pulau Kreta, Jerman berhasil merebut pulau itu.

Namun kemenangan ini harus dibayar mahal dengan kerugian besar dan jumlah anggota Fallschirmjäger yang gugur. Jerman kehilangan 400 pesawat terbang & 15.000-20.000 pasukan. Semenjak pertempuran di pulau Kreta, Jerman tidak pernah lagi mengadakan operasi penerjunan.

Terlepas dari itu, Fallschirmjäger juga memiliki prestasi lain yang tak kalah bagus dari hasil yang mereka dapatkan dalam Pertempuran Kreta. Sebelum merebut pulau Kreta, mereka melakukan berbagai penerjunan seperti di Belgia dalam perebutan benteng Eben Emael, yang disebut-sebut sebagai pertahanan kuat Belgia. Tentara Belgia mengira Jerman akan menyerang dari darat, namun yang terlihat jelas di mata mereka adalah puluhan pesawat glider yang menerjunkan pasukan Fallschirmjäger. Benteng itu pun dapat direbut.

Hingga saat ini, Fallschirmjäger diakui sebagai salah satu divisi elit terbaik sepanjang sejarah.

0 komentar: