Minggu, 28 Oktober 2012

Rahasia Di Balik Suksesnya Blitzkrieg 1939 - 1941

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/10/Bundesarchiv_Bild_101I-646-5188-17%2C_Flugzeuge_Junkers_Ju_87.jpg
Pesawat pembom tukik Junkers Ju-87 "Stuka, salah satu pesawat tempur yang diandalkan Jerman dalam melakukan Blitzkrieg

http://www.conservapedia.com/images/9/97/Moving_into_poland.jpg
Pasukan Jerman dalam invasi ke Polandia

Taktik dan strategi yang diterapkan Angkatan Bersenjata Jerman di awal Perang Dunia II ini saya kira sangat cocok diterapkan pada setiap angkatan bersenjata di semua negara, termasuk Indonesia. Kombinasi Panzer-Panzergrenadier, teknologi mesin perang, moral dan kekuatan Luftwaffe menjadi tumpuan Jerman dalam melakukan Blitzkrieg.

Saat mesin-mesin perang Jerman nampaknya tak tertahankan menggilas melalui jantung eropa, gurun pasir dan bukit batu Afrika, serta padang rumput maha luas di Rusia, seluruh dunia seakan tak berhenti berdecak kagum, baik kawan, lawan, maupun pihak netral. Mereka belajar satu kata baru: Blitzkrieg (Perang Kilat). Para pemimpin militer dunia dan strategis menanyakan pada diri mereka sendiri: "apa rahasia mereka?".

Mereka akan terkejut bila mengetahui bahwa sebenarnya tak ada rahasia yang tersembunyi disini. Tak ada dukun terlibat (apalagi yang namanya santet) berseliweran menerpa musuh-musuh Jerman. Staff Jenderal Wehrmacht telah dengan cermat menganalisis potensi dan kelemahan calon lawan mereka, lama sebelum perang itu sendiri terjadi. Dengannya mereka lalu mengembangkan rencana operasi yang paling cocok, membangun sistem kontrol dan komando terpadu yang efektif, dan mengintegrasikan pasukan lapis baja baru yang mereka punyai dengan kekuatan artileri, infanteri, dan Luftwaffe sehingga membentuk sebuah kekuatan gabungan yang sangat efisien.

Pengaruh Blitzkrieg ini langsung dirasakan oleh negara-negara seperti Polandia, Prancis, Inggris dan Rusia saat mereka berhadapan dengan unit-unit Jerman. Tiba-tiba mereka telah dibombardir oleh artileri darat dan pembom udara, tiba-tiba suara Stuka yang mengerikan menderu ke arah mereka, tiba-tiba panzer datang dengan diikuti oleh infanteri-infanteri di belakangnya, tiba-tiba mereka telah terkepung, terputus dari unitnya, tertangkap, bahkan saat mereka baru turun dari kereta api di garis belakang. Jerman telah belajar dari kekalahan tragisnya dalam Perang Dunia Pertama. Tak seperti musuh-musuhnya, Jerman tidak siap bila harus mengalami lagi perang gaya parit bercampur lumpur seperti yang terjadi di Somme, Verdun, Passchendaele dan tempat-tempat melegenda lainnya. Latihan keras Angkatan Bersenjatanya dimaksudkan untuk mencegah hal tersebut terulang kembali. Tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan pertahanan musuh secepat mungkin, menembus melalui wilayah belakangnya, mengganggu pasokan logistiknya, dan mengalahkan musuh secara telak sebelum dia bahkan sempat membangun kekuatan.

Hal ini tampaknya sederhana, tapi tidak semudah seperti yang terlihat. Di masa damai, saat negara-negara lain bersikap santai dalam membangun kekuatan militernya, diam-diam Jerman membangun suasana layaknya "perang" bagi Wehrmacht-nya yang baru lahir. Prajurit-prajurit dilatih dengan menggunakan peluru tajam, amunisi asli, dan situasi layaknya di medan pertempuran yang sebenarnya. Latihan fisik dan mental dilakukan sepanjang waktu, tidak terbatas hanya saat mereka menjadi kadet saja. Manuver (latihan perang) kerap diselenggarakan, dan biasanya melibatkan tidak hanya satu cabang Angkatan Bersenjata belaka. Unit-unit dilatih dalam segala aspek misi yang dibebankan kepada mereka. Bahkan dengan begitu banyaknya perekrutan kader-kader baru yang seakan tak berakhir, pengembangan unit yang sudah ada dan pembentukan unit-unit baru, kebanyakan darinya tidak lalu tumbuh menjadi unit dan individu yang biasa-biasa saja atau bahkan lembek. Mereka menjadi kekuatan baru yang tangguh, layaknya veteran perang yang sebenarnya. Pelatihan unit kecil dan individu prajurit melibatkan serangkaian latihan tempur yang didesain untuk mengkondisikan unit dan prajurit agar siap untuk bertempur seperti halnya dalam latihan biasa. Pelatihan untuk para komandan dan perwira pun tidak luput menjadi perhatian. Kursus dan pelatihan tambahan yang panjang diterapkan kepada mereka, agar nantinya mereka siap lahir-batin memimpin pasukannya dalam segala kondisi di pertempuran yang sebenarnya. Latihan mereka tak hanya ditujukan agar memimpin anak buahnya secara “benar”, tetapi juga bagaimana agar mereka bisa mengkombinasikan kekuatannya dengan pasukan dari unit lain yang berbeda. Hal ini memberikan suatu bentuk profesionalisme yang begitu luar biasa, sehingga membuat unit-unit ini mampu bertahan melalui enam tahun penuh peperangan yang brutal dan berdarah-darah.

Faktor lainnya adalah fleksibilitas. Dengan menitikberatkan pada karakter rakyat Jerman yang terkenal kreatif dan teratur, para komandan dan prajurit didorong untuk menggunakan inisiatifnya manakala diperlukan. Selalu ditekankan bahwa setiap prajurit mempunyai peran yang sama dalam pencapaian keberhasilan dari misi yang dibebankan kepada unitnya. Bila situasi kemudian berubah secara drastis, jangan hanya menunggu perintah baru yang dikeluarkan tapi lakukanlah sesuatu, apa saja! Bila komandanmu menjadi korban, ambil alih komando. Bila kamu melihat sebuah kesempatan yang tak terduga, ambillah keuntungan darinya. Yang jelas, jangan berhenti bergerak ke depan, maju di antara suara desingan peluru. Kebijakan yang sangat mendukung inisiatif dan kreatifitas ini (yang saat itu tidak banyak diterapkan di negara-negara lain) telah ikut bertanggungjawab terhadap kemenangan-kemenangan awal Jerman, sama dengan faktor-faktor non-mental lainnya.

Hal ini berkaitan erat dengan sikap orang-orang Jerman terhadap profesi militer. Tugas militer dipandang sebagai sebuah profesi yang terhormat di kalangan masyarakat. Ini bukan berarti bahwa semua orang menganggapnya begitu. Hanya saja, hal ini telah secara umum diterima dan dipromosikan dalam pemuatan berita-berita koran, majalah, buku dan media pra-perang lainnya. Kebanyakan anggota tentara pra-perang mempunyai usia berkisar 24-28 tahun. Mereka telah mengalami masa muda yang "gemilang" selama berlangsungnya kebangkitan Nasional-Sosialisme melalui Hitlerjugend (Anak Muda Hitler) dan Reichsarbeitsdienst (Tugas Buruh Nasional). Mereka melihat dengan rasa bangga bangkitnya Jerman dari "kekalahan memalukan" dalam Perang Dunia I menjadi salah satu negara terpandang di Eropa dan dunia melalui kekuatan militernya. Orang-orang ini merupakan inti dari Angkatan Bersenjata Jerman yang baru. Di dalam kebanyakan unit Wehrmacht, mereka hanya terdiri dari 10-15% tamtama, tapi mempunyai porsi yang lebih besar dalam tubuh bintara dan porsi yang lebih besar lagi dalam tubuh perwira yuniornya.

Semuanya diilhami oleh konsep Gemenschaft (solidaritas komunitas). Ini adalah semacam ideologi non-formal yang menjadi pembentuk kesetiakawanan dan kekesatriaan dalam kehidupan militer. Skill bertempur yang mumpuni, solidaritas antar unit, dan kekuatan fisik. Prajurit-prajurit muda bersemangat dan fanatik yang telah dibekali itu semua nantinya akan menjadi contoh dari kedahsyatan bertempur yang tak henti-hentinya menjadi bahan penelitian oleh para sejarawan. Mereka juga menjadi penyemangat anggota unit lainnya yang mungkin tidak "seantusias" mereka. Ideologi Gemenschaft ini sekaligus juga menjadi penguat kepaduan unit, sejajar dengan ikatan militer melalui sumpah prajurit di depan bendera unit, seragam masing-masing unit yang mempunyai kekhasan tertentu, dan penghargaan seabrek-abrek bagi tiap orang yang berpestasi dalam pertempuran.

Sistem penggantian Angkatan Bersenjata Jerman juga berfungsi untuk mencapai dan mempertahankan hal ini. Dalam rangka menjaga identitas unit, sebuah divisi biasanya tidak akan ditarik dari pertempuran sebelum jumlahnya berkurang sampai 75-50%. Datangnya anggota baru dan pulangnya anggota lama dari cutinya kembali menempatkan kekuatan divisi secara penuh. Anggota baru ini kemudian mendapat latihan ulang yang menekankan pada kerjasama dengan anggota-anggota lama, dan tidak akan diterjunkan kembali dalam pertempuran sebelum tercipta kesatuan yang kokoh seperti sebelumnya. Hal ini membuat Kampfgeist (semangat bertempur) tetap terjaga tanpa mengalami penurunan moral. Sistem seperti ini terus dilakukan oleh Wehrmacht, sampai akhirnya superioritas Sekutu di akhir-akhir perang membuat hampir mustahil untuk mempertahankannya.

Jadinya, tidak hanya strategi baru dan peralatan perang modern yang menjadi penyebab keberhasilan Jerman di awal perang (1939-1941), melainkan satu yang lebih penting: mental. Hal ini hanya diketahui dan dipahami oleh beberapa orang tertentu saja, sehingga seakan-akan orang di luarnya menduga bahwa kunci kemenangan demi kemenangan yang diraih Wehrmacht adalah adanya "rahasia" yang misterius. Ingat sodara-sodara, strategi sebagus apapun dan senjata semodern apapun akan menjadi sia-sia manakala orang yang diserahi tanggung jawab "mengelolanya" tidak mempunyai mental bertempur yang bagus dan terinspirasi oleh apa yang dilakukannya. Itulah yang terjadi pada pasukan Amerika di Vietnam dan pasukan Multinasional di Afghanistan.


Sumber: http://alifrafikkhan.blogspot.com, dengan sedikit perubahan

0 komentar:

Jumat, 26 Oktober 2012

1 September 1939 Di Langit Warsawa. Perang Udara Pertama Dalam Perang Dunia II (Sudut Pandang Pilot-Pilot Polandia)

Tiga buah Junkers Ju-87 "Stuka" tinggal landas untuk menyerbu Polandia

Sebuah pesawat Heinkel He-111 menjatuhkan bom di atas angkasa Polandia, 1 September 1939

http://www.abload.de/img/polen_stukas1b0h.jpg
Formasi pesawat Junkers Ju-87 "Stuka" di langit Polandia, 1 September 1939

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ee/PZLP11C_CURRENT.jpg/877px-PZLP11C_CURRENT.jpg
Pesawat tempur PZL P.11 milik Polandia yang digunakan dalam perang udara di Polandia


Sebelum pecahnya Perang Dunia II yang dimulai pada tanggal 1 September 1939. Angkatan Udara Polandia mempunyai tujuh skuadron pemburu (Dywizjon Mysliwski) yang masing-masing diperlengkapi oleh 20 buah pesawat. Tiap skuadron dibagi lagi menjadi dua Eskadra (seksi). Pesawat yang operasional pada saat itu praktis hanya pemburu PZL P.11 jenis 'a' atau 'c'. Hanya tiga Eskadrilles yang dipersenjatai dengan pesawat pemburu PZL P.7 tipe lama. Dengan adanya mobilisasi perang pada tanggal 26 Agustus 1939, semua unit tempur mendapat perintah untuk memindahkan pangkalan udaranya.

Kebanyakan skuadron pemburu tersebut dibagi-bagi oleh struktur komando Angkatan Darat Polandia untuk mendukung dan melindungi kekuatan darat mereka. Hanya unit dari Resimen Udara Warsawa No.1 (Sq No: III/1 dan IV/1) yang dimasukkan ke dalam Brygada Poscigowa (Brigade Pengejar) yang bertugas untuk mempertahankan ibukota Polandia yang bernama Gegerbitung eh Warsawa. Hanya beberapa hari sebelum serangan Jerman, skuadron IV/1 diperkuat dengan tambahan Eskadra Mysliwska ke-123 (Pemburu Eskadrille) dari Resimen Krakow ke-2. Pemburu Eskadrille ini dilengkapi dengan pesawat tempur P.7. Kolonel Stefan Pawlikowski, yang merupakan pilot veteran di angkasa Prancis dalam Perang Dunia I dan juga dalam Perang Polandia-Bolsewik tahun 1920, ditunjuk untuk mengomandoi brigade ini.

Tanggal 1 September 1939 jam 6.30 pagi, datang sebuah pesan darurat ke markas brigade yang datangnya dari titik observasi di kota Mlawa. Pesan itu menyebutkan tentang kedatangan grup pembom musuh yang akan menyerang Warsawa. Kolonel Pawlikowski segera memerintahkan untuk mengudarakan seluruh pesawat brigade pengejarnya. Setelah tinggal landas, pesawat-pesawat pemburu Polandia menggabungkan formasi di atas Legionowo. Sekitar jam 7-an di sekitar wilayah Bugo-Narew, akhirnya pecah pertempuran ketika brigade tersebut menyerang kurang lebih 80 buah pesawat He-111 dari LG-1 dan KG-27 "Boelcke". Formasi bomber Jerman ini telah mendapat perlindungan dari 20 buah Bf-110 dari I(Z)/LG-1. Dalam pertempuran yang sangat dahsyat dan ketat yang berlangsung selama 40 menit ini, tidak kurang dari 154 pesawat dari kedua belah pihak berseliweran saling membunuh lawannya.

Pilot pertama yang menyerang formasi Jerman berasal dari seksi yang dipimpin oleh Letnan Aleksander Gabszewicz, perwira taktis dari skuadron IV/1. setelah rentetan tembakan senapan mesin yang dilancarkan oleh Gabszewicz dan Kopral Andrzej Niewiara, salah satu pesawat He-111 tumbang dan jatuh ke arah utara dengan asap keluar dari badannya. Tak lama pesawat tersebut berdebum ke tanah dalam usaha pendaratan daruratnya, dengan salah satu sayapnya patah setelah menubruk pohon.

Di wilayah Wyszkow, Letnan Dua Jerzy Palusinski menyerang sebuah formasi bomber Luftwaffe yang terdiri dari 12 pesawat. Setelah menembak jatuh salah satu pesawat incarannya, Palusinksi terkena tembakan balik dan terluka di lengannya, dengan jam tangannya berhasil menyelamatkannya dari luka lebih parah. Palusinski terpaksa mendaratkan pesawatnya secara darurat di dekat sebuah desa bernama Kobylka. Pada hari itu ada juga pilot Polandia lain yang mencatatkan kemenangan pertamanya. Salah satu di antaranya adalah Kapten Adam Kowalczyk, komandan dari IV/1 F.Sq, dan Juliusz Frey, pemimpin Eskadrille. Letnan Dua Hieronim Dudwal juga mencatatkan kill pertamanya, yang nanti akan bertambah menjadi total empat buah dalam kampanye di bulan September.

Dalam pertempuran udara pertama ini, hanya ada tiga pemburu P.7 dari Eskadrille ke-123 yang ikut berpartisipasi. Alasan dari sangat sedikitnya pesawat Polandia yang bertempur ini adalah karena komandan IV/1 FS memutuskan untuk lebih memilih 'menahan' kekuatan pesawat-pesawat tempur tuanya dalam menghadapi Luftwaffe yang jauh lebih superior untuk menyiapkannya di lain waktu. Pilot-pilot dari Resimen Krakow menyerang sebuah kelompok yang terdiri dari tujuh bomber He-111. Letnan Dua Jerzy Czerniak bersama dengan Kopral Stanislaw Widlarz secara berpasangan telah menembak jatuh sebuah bomber He-111.

Pihak Polandia pun bukannya tidak menghadapi kerugian pula. Boleslaw Olewinski terpaksa harus mampret dari pesawat tempur P.11-nya yang terbakar hebat, dan menderita luka bakar juga cedera. Letnan Dua Stanislaw Szmejl terpaksa mendaratkan pesawatnya secara darurat setelah tangki bahan bakarnya terkena tembakan pesawat Jerman. Beberapa buah pesawat Polandia juga mengalami kerusakan setelah pertempuran yang diakibatkan oleh tembakan senapan mesin dan kanon sehingga membutuhkan perbaikan sebelum mampu mengudara lagi. Dalam pertempuran udara dahsyat di hari pertama ini, di pihak Jerman Major Walter Grabmann (pangkat terakhirnya Generalmajor) Walter Grabmann mengalami luka sehingga harus ditarik untuk sementara waktu dari front. Grabmann adalah veteran "Legion Condor" yang bertempur di Perang Saudara Spanyol dan menjadi komandan I(Z)/LG-1.

Jam 12 siangnya, grup lain dari bomber-bomber Jerman terbang ke arah Warsawa, dengan tujuan melakukan pemboman. Dua seksi pemburu P.11 dari Eskadrille ke-112 segera lepas landas untuk menghadangnya. Tak lama segera terjadi pertempuran di atas Wilanow. Sebuah formasi yang terdiri dari sembilan bomber Do-17 dilabrak oleh pesawat-pesawat pemburu Polandia. Kali ini bomber-bomber Jerman tidak mendapat perlindungan dari pesawat pemburunya, sehingga mereka memutuskan untuk melarikan diri ke arah Prusia Timur. Tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini, Letnan Stefan Okrzeja memburu salah satu bomber, sehingga akibatnya pesawat pembom tersebut meledak berkeping-keping di udara. Kemenangan ini segera dikonfirmasi setelah pecahan-pecahan kecil dari pesawat yang meledak tersebut ditemukan di antara silinder pesawat P.11 yang dipilotinya.

Pertempuran udara besar kedua yang pecah di hari pertama tersebut terjadi di wilayah Modlin jam 16.30. Kali ini pilot-pilot Polandia harus menghadapi 30 pesawat pembom He-111 dan Do-17 plus sembilan pesawat Ju-87 Stuka, yang dikawal oleh 20 pesawat tempur Bf-109 dan Bf-110. Letnan Dua Jan Borowski sedang melakukan patroli di atas Las Kabacki (Hutan Kabacki) ketika berpapasan dengan sebuah pesawat Bf-109 Jerman yang dipiloti oleh Oberst (Kolonel) Henschke, salah satu veteran "Legion Condor" lainnya. Bf-109 lain ditembak jatuh oleh Kadet Jerzy Radomski, yang tak menyadari pesawat apa yang telah ditembaknya. Ketika dia mendarat kembali, Radomski melaporkan bahwa dia telah menembak jatuh sebuah "avionette" (pesawat ringan untuk keperluan olahraga udara). Kadet Janusz Macinski tak seberuntung koleganya, ketika dia harus mendarat darurat di dekat Sulejowek, dan Letnan Gabszewicz yang harus bail-out dari pesawatnya. Selagi masih bergantungan di parasutnya, Gabszewicz mendapat serangan dari sebuah pesawat Bf-110 yang agresif. Tembakan yang dilancarkan oleh pesawat Jerman tersebut meninggalkan bolong-bolong yang menganga di parasut Gabszewicz. Si pilot Polandia sudah kehilangan harapan dan pasrah saja akan nasibnya yang berada di ujung tanduk. Tiba-tiba datanglah keajaiban ketika pesawat tempur Polandia lain dengan pilot Letnan Dua Tadeusz Sawicz yang sedang terbang di dekat lokasi TKP memberikan bantuannya dengan menyerang pesawat Jerman tersebut. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, pilot Bf 110 menerbangkan pesawatnya kabur dari situ. Pesawat Polandia lain muncul pula, kali ini dikemudikan oleh Wladyslaw Kiedrzynski. Mereka 'mengawal' Gabszewicz dan parasutnya sampai berhasil mendarat dengan selamat di tanah.

Karena misi di pagi hari itu dianggap cukup sukses, para pilot P.7 dari Eskadrille ke-123 memutuskan bahwa lain kali mereka akan pergi untuk melakukan misi selanjutnya, maka mereka tidak akan terbang perseksi lagi, melainkan serentak seluruh pesawat! Dan memang, ujian selanjutnya adalah seteru lama mereka, Bf-110. Dalam fase pertama pertempuran, komandan Eskadrille Kapten Mieczyslaw Olszewski terbunuh. Pesawat P.7-nya jatuh di dekat Legionow. Pilot lain yang berhasil selamat dari pertempuran ini dengan menggunakan parasut adalah Letnan Dua Stanislaw Czternastek, Letnan Dua Feliks Szyszka dan Kadet Antoni Danek. Czternastek berhasil mendarat di tanah di wilayah Nowy Dwor Mazowiecki, sementara dua pilot yang namanya disebut belakangan mendapat serangan dari pilot-pilot Luftwaffe yang tidak menginginkan musuhnya selamat untuk kemudian mengudara kembali menghadapi mereka. Szyszka diberondong tembakan ketika masih berada di parasutnya, dan dia jatuh mendarat di pinggir sungai Wisla dengan 16 lubang bekas tembakan di sekujur tubuh dan parasutnya! Setelah mendapat pertolongan dari rakyat sekitar, dia langsung dibawa ke rumah sakit. Dua pilot P.7 lainnya, Letnan Dua Erwin Kawnik dan Kopral Henryk Flamme terpaksa mendarat darurat di dekat Zakroczyn setelah pesawatnya menderita kerusakan hebat. Lawannya saat itu, pesawat-pesawat Bf-110 Jerman dari I.(Z)/LG-1 telah mengklaim menembak jatuh 5 pemburu PZL di hari itu, 3 oleh Hauptmann Fritz Schleif, sedangkan 2 lainnya masing-masing oleh Unteroffizier Sturm dan Unteroffizier Lauffs.

Dalam dogfight lainnya di hari itu, Letkol Leopold Pamula, wakil komandan Brigade Pengejar, juga ikut serta. Pamula datang langsung dari HQ dan segera menyuruh salah seorang pilot untuk segera keluar dari kokpit pesawatnya karena dialah yang akan mengudara dengan pesawat tersebut! Tak lama dia sudah terlibat dalam pertempuran seru melawan dua buah Bf-109. Pesawatnya tertembak sehingga dia harus bail-out. Dalam pertempuran ini, juga terluka pilot Zdzislaw Horn, yang langsung koma di kokpit tak lama setelah mendaratkan pesawatnya kembali ke pangkalannya. Di atas Praga Kapten Gustaw Sidorowicz (komandan 111 F.Esc.) terlibat pertarungan melawan sepasang pemburu Bf-109. Hasil dari pertempuran ini adalah 1:1 - satu dari pesawat Jerman kemungkinan tertembak jatuh, sementara Sidorowicz sendiri yang terluka terpaksa mendarat daruratkan pesawatnya.

Di sebagian besar hari yang menentukan itu, 1 September 1939, kebanyakan bomber Jerman tidak dapat menjangkau sasaran utamanya, ibukota Polandia. Mereka terpaksa menurunkan muatannya (baca: bom) di lapang-lapang dekat Warsawa dan kemudian balik kembali ke Prusia Timur. Di Warsawa sendiri, hanya sedikit saja bom yang dijatuhkan. Selama pertempuran di tanggal tersebut, Brigade Pengejar kehilangan satu pilot terbunuh, dan delapan lainnya masuk dukun eh rumah sakit. 10 pesawat menjadi korban, sementara 24 lainnya rusak berat. Jam 20.00 (masih tanggal 1 September), Brigade tersebut hanya tinggal mempunyai 20 pesawat yang siap tinggal landas. Di lain pihak, para pilot brigade ini telah menembak jatuh 12 pesawat Luftwaffe sementara empat lainnya dibagi kemenangannya dengan pilot-pilot dari Eskadrille ke-152. Lima kemenangan diklaim hanya sebagai kemungkinan (karena tidak ada bukti/konfirmasi), sementara 10 pesawat Jerman berhasil dirusak.

Para pilot dari Eskadrille Pemburu ke-152 telah menunggu sinyal tinggal landas dari sejak pagi buta. Pesan pertama yang mengabarkan tentang aktivitas udara Jerman datang sekitar jam 16.00, dimana grup formasi Luftwaffe dengan kekuatan besar datang dari arah Modlin. Untuk mempertahankan kota, sembilan pemburu P.11 langsung take-off. Ketika pilot-pilot Polandia itu akhirnya berjumpa dengan Jerman, mereka seakan melupakan tugas utamanya, yaitu mempertahankan Warsawa. Satu kelompok yang dipimpin oleh Letnan Marian Imiela dan Letnan Dua Anatol Piotrowski segera melakukan pengejaran ke arah musuh. Mereka menjumpai sasarannya jauh dari Warsawa itu sendiri, di sekitar wilayah Jablonna dan Legionow. Yang pertama menyerang adalah Letda Piotrowski yang menghancurleburkan sebuah He-111 dengan serentetan tembakan point-blank. Sebelum pesawat Jerman itu menukik jatuh, kru senapan mesinnya masih sempat memberikan perlawanan dan pesawat Piotrowski pun ikut terkena timah panas. P.11 yang dikemudikannya mengalami kerusakan mesin dan sulit untuk dikendalikan, sehingga Piotrowski memutuskan untuk mendarat darurat saja. Sialnya, tak lama datang Bf-109 dari balik awan, dan dalam ketinggian rendah mereka menghajar P.11 yang tak mampu untuk berbuat apa-apa. Piotrowski pun tewas seketika.

Pilot lainnya dari Eskadrille ke-152 adalah Letnan Dua Jan Bury-Burzymski. Dalam sebuah serangan vertikal di atas wilayah Buchnika, Bury-Burzymski berhasil menembak jatuh sebuah He 111. Eskadrille ini, bersama dengan Brigade Pengejar, berhasil menambah empat buah kemenangan. Setelah pertempuran terakhir di hari itu, yang berlangsung selama kurang lebih satu jam, para pilot Polandia kembali ke pangkalannya.


Sumber: 

0 komentar:

Kamis, 25 Oktober 2012

Fakta - Fakta Menarik Tentang Fallschirmjäger (Pasukan Terjun Payung Jerman)

Empat anggota Fallschirmjäger, dengan wajah kelelahan namun dengan semangat yang tinggi, berpose di antara puing biara Monte Cassino yang dihancurkan oleh Sekutu di Italia


- Operasi Stösser di Ardennes adalah operasi terjun malam satu-satunya yang pernah dilakukan oleh Fallschirmjäger dalam Perang Dunia II

- Oberst Baron Friedrich August von der Heydte menggunakan desain pita parasut rampasan dari Rusia untuk penerjunan di Ardennes. Meskipun masih dalam perawatan untuk mengobati luka-luka yang terdahulu (dan juga terluka kembali tak lama setelah penerjunan tersebut!), diberitakan bahwa dia mengakui kalau parasut Rusia tersebut mempunyai mutu dan desain yang lebih baik dibandingkan dengan yang Jerman punya, terutama dalam hal lebih mudah dikendalikan dan tak banyak goyangan saat di udara.

- Tak seperti kameradnya di cabang lain Wehrmacht yang biasa membawa Soldbuch (buku pembayaran gaji) kemana-mana dan biasanya disimpan di saku dada seragam mereka, para Fallschirmjäger tak pernah membawa Soldbuch mereka saat terjun ke dalam pertempuran. Buku ini disimpan oleh bagian khusus di resimen atau divisi, dan biasanya disimpan di tempat keberangkatan mereka dan dibalikin lagi saat para penerjun payung tersebut kembali. Untuk menggantikannya, digunakanlah kartu identitas khusus.

- Semua operasi terjun payung Jerman yang dilakukan dalam Perang Dunia II (dengan pengecualian di Ardennes) dilakukan di luar jangkauan artileri Jerman. Para prajurit yang terlibat dalam Operasi Stösser rencananya akan didukung oleh artileri jarak jauh, tapi kemudian rencana tersebut dibatalkan karena adanya kerusakan peralatan radio selama berlangsungnya pendaratan. Seorang observer artileri bernama SS-Obersturmführer Etterich dari 12.SS-Panzer-Division ditugaskan untuk mendampingi batalion Von der Heydte.

- Baik pasukan terjun payung Jerman maupun Sekutu sama-sama suka menggunakan boneka untuk mengelabui musuhnya. Masalah yang timbul dalam hal menerjunkan boneka adalah bahwa “penipuan” seperti ini biasanya berumur pendek. Tak perlu waktu yang lama bagi pihak yang bertahan di darat untuk menyadari bahwa itu adalah bohong-bohongan dan bukan penerjun payung yang asli. Boneka yang dibuat oleh Sekutu umumnya lebih realistis, karena ketika mereka menyentuh tanah maka akan timbul ledakan-ledakan petasan yang menyerupai suara tembakan senjata. Sementara itu pihak Jerman memutuskan bahwa cara terbaik untuk menggunakan boneka ini adalah dengan menerjunkannya bersama-sama penerjun payung yang asli sehingga akan menimbulkan kesan jumlah penerjun yang lebih banyak dari sebenarnya, dan juga untuk menyamarkan obyek serangan mereka. Pihak Jerman bahkan berbuat lebih jauh melalui eksperimen menggunakan pot asap yang ditempelkan ke boneka demi menutupi mereka saat pendaratan sehingga memperpanjang waktu “penipuan”. Sayangnya, ide ini sendiri hanya sampai pada tahap percobaan saja dan tak pernah masuk ke perencanaan dan produksi.

- Ketika dihadapkan pada masalah mendapatkan kembali glider dari lokasi pendaratan, komando tinggi Jerman sempat mempertimbangkan ide untuk memasangkan mesin pesawat ringan ke glider sehingga manakala mereka telah selesai di-drop maka bisa digunakan kembali.

- Hanya 20% dari para Fallschirmjäger yang diterjunkan di Ardennes yang telah mendapat latihan memadai untuk terjun bersama dengan senjata dan peralatan mereka sebelumnya. Hal ini ternyata membawa kerugian besar kepada misi yang dijalankan, karena begitu besarnya persentase dari kontainer senjata dan suplai yang hilang, rusak dan tak terpakai.

- Pada saat D-Day tanggal 6 Juni 1944, tercatat 150.000 orang yang bertugas di Fallschirmtruppe, meskipun hanya 30.000 orang di antaranya yang lolos kualifikasi sebagai penerjun payung! Orang-orang yang digolongkan sebagai penerjun payung “beneran” ini terutama berasal dari Divisi Fallschirmjäger ke-1 dan ke-2. Divisi ke-1 asalnya bernama Divisi Lintas Udara ke-7, sementara Divisi ke-2 berasal dari unit-unit yang beraneka ragam seperti 2. Fallschirmjäger-Regiment, sisa-sisa Brigade Ramcke, dan sebuah batalyon resimen serang. Semua unit ini merupakan unit veteran yang telah ikut serta dalam operasi-operasi militer sebelumnya.

- Tidak seperti pasukan Inggris dan Amerika, pihak Jerman tidak pernah memproduksi radio tipe walkie-talkie untuk kepentingan komunikasi antara formasi-formasi setingkat peleton dan kompi. Meskipun begitu, satu set kecil buatan Siemens-Halske telah digunakan untuk operasi kecil di Malta tahun 1942 untuk batalyon d bawah komando Oberst Baron von der Heydte. Alat ini sangat portabel, dapat dibawa oleh satu orang, ditenagai oleh baterai yang tahan lama dan mempunyai jangkauan sampai sejauh 200 mil. Sayangnya, dia tidak diproduksi massal.

- Selama berlangsungnya Operasi Mercury, setidaknya satu kompi dari setiap batalyon telah diterjunkan di tempat yang salah, dan bahkan beberapa orang hilang setelah diterjunkan langsung ke lautan! Ini terutama merupakan hasil dari kurangnya pengalaman dan keberanian para jumpmaster di pesawat transport Ju-52 yang membawa mereka. Keberuntungan benar-benar tidak menghinggapi satu kelompok Fallschirmjäger yang diterjunkan di Kreta, dimana mereka mendarat tepat di sebuah kebun tebu, dan semuanya terpanggang oleh pohon-pohon tebu yang runcing! Tak jelas apakah hal ini merupakan kesalahan utama dari jumpmaster juga ataukah berasal dari desain parasut yang rada sulit untuk dikontrol. Yang jelas, banyak Fallschirmjäger yang binasa di hari itu karena kesalahan pendaratan.

- Meskipun tak berhubungan langsung dengan Fallschirmtruppe, pada tahun 1943 tujuh buah senjata anti-tank 75mm telah diterjunkan dengan sukses menggunakan glider serang medium Gotha 242 di benteng Velikie Luki yang terkepung. Senjata yang sangat dibutuhkan ini digunakan untuk menahan laju kendaraan lapis baja Rusia dan memperpanjang pengepungan sampai beberapa waktu lamanya.

- Dari tahun 1940-1945, sebanyak 134 Ritterkreuz telah dianugerahkan untuk para anggota Fallschirmjäger terpilih. 24 Ritterkreuz diberikan untuk aksi di Front Barat, sementara 27 lainnya untuk tahun-tahun setelah pendaratan di Kreta. Dari 134 Ritterkreuz tersebut, 5 di antaranya merupakan Eichenlaub dan Schwerter, sementara satu adalah Eichenlaub, Schwerter dan Brillanten. Hanya 2 Ritterkreuz yang telah dianugerahkan kepada kopral (tak ada perbedaan antara perwira dan non-perwira untuk masalah penerimaan Ritterkreuz).

- Satu-satunya medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten yang diberikan kepada anggota Fallschirmjäger, jatuh ke tangan General der Fallschirmtruppe Hermann Bernhard Ramcke. Uniknya, medali ini diberikan bukan karena aksinya sebagai seorang penerjun payung, tapi atas kepemimpinannya sebagai komandan Festung Brest di Pantai Prancis setelah pendaratan D-Day, dimana bentengnya mendapat kepungan ketat Sekutu. Benteng tersebut akhirnya menyerah tanggal 20 September 1944, hari yang sama dimana Ramcke dianugerahi Brillanten! Sudah jelas bahwa jenderal satu ini tidak mengikuti perintah Hitler untuk “bertempur sampai orang dan peluru terakhir”, karena dia menyerah dengan membawa beberapa koper berukuran besar dan satu anjing peliharaan.

- Beberapa pesawat Ju-52 yang menarik glider-glider DFS-230 ke sasaran mereka di Belgia bulan Mei 1940 tak pernah kembali ke pangkalannya lengkap dengan bawaan mereka. Pesawat-pesawat ini membawa glider mereka sampai sejauh 25-30 mil ke belakang garis pertahanan Belgia dan menjatuhkan boneka-boneka dari jerami untuk memberikan kesan bagi pasukan pertahanan Belgia di darat bahwa mereka telah mendapat serangan dari belakang.

- Jenderal Hermann Bernhard Ramcke dan sisa-sisa Brigade Fallschirmjäger-nya telah dinyatakan tewas secara resmi ketika mereka hilang setelah pertempuran kedua di El-Alamein. Ternyata brigade tersebut berhasil mundur dengan menggunakan truk-truk rampasan dari konvoy musuh. Mereka akhirnya sampai di garis pertahanan Jerman setelah melakukan perjalanan sejauh 800 mil. Lebih dramatis lagi ketika Ramcke secara pribadi melaporkan kedatangannya yang luar biasa mengejutkan di depan pintu kendaraan komando Generalfeldmarschall Rommel. Tak terbayangkan bagaimana ekspresi dari Rommel saat itu.

- Jenderal Ramcke mempunyai begitu banyak gigi palsu terbuat dari metal di mulutnya setelah dia kehilangan yang asli dalam salah satu kecelakaan parasut.

- Pertempuran pertama antara Fallschirmjäger Jerman melawan pasukan parasut Inggris terjadi tanggal 20 November 1942 di Tunisia, Afrika Utara.


- Para anggota Divisi Fallschirmjäger ke-8 dipanggil untuk menetralisasi sebuah grup SS berani mati dan partisan-partisan Jerman (unit-unit Werewolf) di hari-hari pertama bulan Mei 1945. Mereka telah membuat lubang perlindungan di sebuah hutan bernama Forst Segeberg di Utara Jerman. Grup yang tidak mau menyerah ini tadinya akan bertempur melawan dua batalyon dari Divisi Lapis Baja ke-11 Inggris. Di Flensburg yang berada di perbatasan Jerman/Denmark, Großadmiral Karl Dönitz, yang kini menjadi kepala negara setelah matinya Hitler, memerintahkan mereka untuk meletakkan senjata. Ketika mereka menolak, Dönitz mengirimkan sisa-sisa Divisi Fallschirmjäger ke-8 untuk menghadapinya. Di depan mata orang-orang Inggris, pertempuran sengit pecah antara orang Jerman melawan orang Jerman. Akhirnya Kampfgruppe SS fanatik tersebut menyerah beberapa hari kemudian.

- Para komandan Fallschirmtruppe di bawah ini telah dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwertern: Generalmajor Ludwig Heilmann (15 Mei 1944), Generalmajor Karl-Lothar Schulz (18 November 1944), General der Fallschirmtruppe Eugen Meindl (8 Mei 1945), General der Fallschirmtruppe Richard Heidrich (25 Maret 1944), dan Oberst Hans Kroh (12 September 1944).

- Jenderal Eugen Meindl memulai perang sebagai komandan sebuah resimen artileri gunung sebelum dipindahkan ke Fallschirmtruppe.

- Generaloberst Kurt Student, sang bapak Fallschirmjäger Jerman, dianugerahi medali Eichenlaub.

- 756 Fallschirmjäger dianugerahi Perisai Narvik setelah berakhirnya pertempuran di kota Narvik (Norwegia Utara) dari April sampai Juni 1940.

- General der Fallschirmtruppe Bruno Bräuer dieksekusi di barak militer Chaidari (Yunani) tanggal 20 Mei 1947, yang bertepatan dengan peringatan 6 tahun pendaratan Jerman di Kreta. Dia tercatat sebagai Fallschirmjäger pertama yang dianugerahi Fallschirm-Badge.

- Ketika sedang berusaha meloloskan diri dari Kantong Falaise yang terkepung, Jenderal Eugen Meindl (komandan Korps Fallschirmjäger ke-2) bertemu secara tidak sengaja dengan putra tercintanya yang juga terjebak di tempat yang sama.

- 223 Deutsches Kreuz in Gold telah dianugerahkan kepada para prajurit Fallschirmjäger Luftwaffe, sementara Luftwaffe sendiri secara keseluruhan menerima 7.248 Deutsches Kreuz in Gold.

- Oberst Freiherr von der Heydte yang terkenal itu memulai perang sebagai komandan sebuah kompi anti-tank di Angkatan Darat, dan tidak bergabung dengan Fallschirmtruppe sampai dengan bulan Agustus 1940. Klaus von Stauffenberg, orang yang berusaha membunuh Hitler, adalah sepupu sang Baron.


0 komentar:

Selasa, 23 Oktober 2012

Penyebab Lemahnya Italia Di Perang Dunia II

Penampilan Tentara Italia di masa Perang Dunia II

Tentara Italia yang bertugas di Front Afrika, sekitar tahun 1942


Seperti yang telah kita ketahui selama ini, bahwa sekutu utama  Jerman di Perang Dunia II adalah Jepang dan Italia. Selain dua negara tersebut, ada negara-negara lain yang bergabung seperti Finlandia, Rumania, dan Hungaria. Dari sekutu-sekutu Jerman yang telah disebutkan, yang dianggap "mengecewakan" adalah Italia yang senantiasa menanggung kekalahan. Di balik kelemahan Italia, ada beberapa faktor yang menjadikan semangat tempur Italia menjadi "melempem". Padahal, di berbagai pertempuran di Front Barat dan Front Afrika sebenarnya Italia juga mendapat bantuan Jerman. Namun Italia tidak ada ubahnya seperti "teman yang menyusahkan". Beberapa faktor tersebut adalah:

Tidak Bersatunya Pemerintahan Italia
Berbeda dengan Jepang, kaum Fasis Jepang dan otoritas Kekaisaran berada dalam satu suara. Tidak ada istilah dimana otoritas Kekaisaran ataupun kaum Fasis Jepang yang saling curiga satu sama lain. Mereka bekerja sama untuk satu tujuan yakni kejayaan tanah air. Sebaliknya dengan Italia, otoritas Kerajaan dan kaum Fasis Italia malah berbeda pandangan. Kaum Fasis Italia menginginkan untuk menghentikan persekutuan dengan Inggris dan Prancis, karena terbukti kedua negara itu mengkhianati Italia usai Perang Dunia I. Namun otoritas Kerajaan menginginkan untuk mempertahankan aliansi dengan pihak Sekutu. Hal ini mengakibatkan pertentangan yang berlarut-larut pada akhirnya.

Italia Tidak Terlalu Berniat Berperang Di Sisi Jerman
Seperti yang telah dijlaskan di atas bahwa otoritas Kerajaan ingin mempertahankan aliasi dengan pihak Sekutu sedangkan kaum Fasis menarik Italia untuk bersekutu dengan Nazi Jerman. Sebenarnya, kaum Fasis Italia kalah suara dalam hal ini sebab sebagian besar elemen Italia dari masyarakat, militer pemerintahannya (Otoritas Kerajaan) lebih membenci Jerman daripada Inggris dan Prancis. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor historis dimana dalam sejarah sejak masa Romawi Kuno hingga Perang Dunia I, Italia tidak pernah sedikitpun memenangka pertempuran dengan bangsa Jerman. Bahkan Kekaisaran Romawi Barat sendiri diruntuhkan oleh suku-suku barbar dari tanah Jerman. Bangsa Italia memendam rasa benci ini selama berabad-abad, dan untuk itu mereka mengadakan aliansi dengan Inggris dan Prancis. Namun kaum Fasis Italia tidak mempedulikan masa lalu bangsa mereka dan tetap memilih Nazi Jerman sebagai sekutu. Ini juga menimbulkan perpecahan di kalangan rakyat Italia. Pada akhirnya Jerman sebagai sekutu Italia sendiri tidak diterima oleh rakyat Italia ketika datang untuk membatu pertahanan Italia dari serangan Sekutu.

Doktrin Bertempur Dan Semangat Kedisiplinan Militer Yang Hilang
Semenjak keruntuhan era Romawi, bangsa Italia telah kehilangan doktrin bertempurnya serta kedisiplinan militernya. Mereka lebih senang "mengurus" kesenian. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya seniman yang lahir di Italia seperti Arturo Toscanini, Giorgio Vasari, Leonardo Da Vinci dan lain-lain. Selain itu masyarakat Italia lebih menyukai kebebasan mutlak, pesta-pesta dan sikap foya-foya. Mereka memandang Fasisme sebagai cara untuk memaksa Italia meninggalkan kehidupan bersenang-senang dan kembali kepada aturan berdisiplin yang membosankan. Selain itu bangsa Italia adalah bangsa yang tergolong ribut sendiri. Italia tidak suka berperang bahkan untuk mempertahankan tanah airnya sendiri, namun mereka lebih suka ribut sendiri dan mengadakan pesta serta berfoya-foya. Jelasnya, itulah hidup senang dalam padangan masyarakat Italia.

Persenjataan Italia Masih Kurang Memadai
Sebagai contoh, Angkatan Darat Italia hanya memiliki tank-tank yang inferior dibandingkan dengan tank-tank Inggris dan Prancis yang jauh lebih kuat. Selain itu barak militer dan organisasi angkata bersenjatanya mash berantakan. Namun Italia memiliki satu kelebihan, yakni Angkatan Lautnya jauh lebih kuat daripada Angkatan Laut Inggris dan Prancis serta ditopang dengan armada modern. Italia adalah negara pertama yang memiliki kapal-kapal perang tercanggih pada PD II yang bahkan tidak dapat ditandingi oleh Royal Navy (AL Inggris). Kapal-kapal perang Italia besar dan kuat serta gerakannya yang lebih gesit dan lincah, seperti RN Roma dan RN Littorio. Namun faktor lemahnya mental Italia sepertinya menjadi bahan mainan bagi Sekutu. Belum lagi para petinggi militer Italia yang masih tidak percaya diri menghadapi kekuatan Sekutu meski sudah dibantu oleh Jerman. Hal ini tentu saja menjadi sia-sia.

Perubahan Kebijakan Fasis Italia
Dalam hal ini adalah bermulanya kebijakan Fasis Italia untuk ikut memburu kaum Yahudi seperti Nazi Jerman yang juga memburu kaum Yahudi. Jika Jepang bersemangat untuk memburu kaum Yahudi dan yang memiliki keterkaitan dengan Yahudi seperti Freemasonry hingga ke Indonesia, lain halnya dengan Fasis Italia. Masyarakat Italia tidak suka bermusuhan dengan Yahudi karena mereka menganggap Yahudi penting bagi kehidupan Italia. Bahkan di awal perkembangan Fasis Italia, banyak anggotanya yang berasal dari kalangan Yahudi. Mereka berperan sebagai donatur atau bahkan menduduki jabatan penting sebagai anggota Dewan Fasis. Bahkan kekasih awal Mussolini berasal dari kalangan Yahudi. Perubahan kebijakan akibat persekutuan dengan Nazi Jerman membuat masyarakat Italia muak dengan Pemerintahan Fasis.

Otoritas Vatikan
Mussolini membuat kesalahan besar dengan membebaskan otoritas Vatikan melalui Perjanjian Lateran. Bahkan Kekaisaran Romawi dan Kerajaan Awal Italia Bersatu tidak pernah membiarkan Vatikan lepas dari kontrol pemerintah pusat sebab Vatikan sebagai otoritas tertinggi Gereja Katolik Roma dipandang sebagai pemimpin agama yang terpisah dari kepentingan politik. Oleh karena itu kekuasaan Vatikan dibatasi oleh  pemerintah pusat Romawi dan Italia. Namun Mussolini mengubah tradisi tersebut. Dengan membebaskan Vatikan artinya Mussolini gagal menempatkan Vatikan di bawah pengawasan pemerintah Italia seperti pada masa lalu dan ini berakibat fatal sebab Mussolini membuat kekuasaan Vatikan seolah-olah tidak tersentuh. Berbeda dangan Nazi, Hitler berhasil merangkul kaum Rohaniwan untuk mendukung pemerintahannya  sementara Mussolini dengan membebaskan Vatikan bukan saja ia gagal menggalang dukungan kaum Rohaniwan, namun tentunya kaum Rohaniwan itu akan berbalik menyerangnya mengingat dengan bebasnya Vatikan maka mutlak kekuasaan Paus seperti masa setelah runtuhnya Romawi Barat. Inilah kesalahan besar Mussolini padahal jika Vatikan tetap ada di bawah kontrol Italia maka akan mudah bagi Mussolini untuk menarik dukungan kaum Rohaniwan sebab para pemuka agama merupakan salah satu elemen terpenting bagi negara yang mempercayai adanya Tuhan dan agama. Bahkan diisukan bahwa Vatikan menjadi salah satu wadah Kaum Konspirasi untuk menumbagkan rezim Fasis/Nazi.

10 komentar:

Rabu, 10 Oktober 2012

SS-Standartenführer Wilhelm Harun El-Raschid Hintersatz (1886 - 1963), Perwira Waffen-SS Yang Mualaf

Wilhelm Harun al-Raschid Hintersatz dalam balutan seragam Ottoman Turki, lengkap dengan penutup kepala (fez) nya yang khas

Surat Tugas SS (Tagesbefehl) Wilhelm Hintersatz


Wilhelm Hintersatz dilahirkan tanggal 26 Mei 1886 dari keluarga yang beragama Katolik. Dia bertugas di Kaiserliche dan Königliche Armee selama berlangsungnya Perang Dunia Pertama, dan atas jasa-jasanya dalam pertempuran, Hintersatz dianugerahi Eiserne Kreuz kelas ke-1 dan ke-2, plus Wound's Badge in Silver. Dia kemudian mendapat penugasan ke Turki dan menjadi ajudan Jerman dari jenderal Turki Enver Pasha. Rupanya disinilah timbul minatnya untuk mempelajari agama Islam, dan tak lama kemudian Hintersatz sudah beralih agama dari Katolik ke Muslim, dan merubah namanya menjadi Harun El-Raschid Bey.

Setelah Perang berakhir, Hintersatz balik kembali ke kesatuannya di Austria, meniti karir sampai meraih pangkat Kolonel (Oberst). Ketika Jerman dibawah Hitler menganeksasi Austria tanggal 16 Maret 1938, Hintersatz adalah salah satu pendukungnya yang paling ekstrim. Oleh karena itulah, Himmler memasukkannya menjadi anggota SS (Schutzstaffel) tanggal 1 Oktober 1944 dengan nomor keanggotaan 496147 dan pangkat Standartenführer (setara dengan pangkat Kolonel dalam jenjang tentara biasa).

Hintersatz menjadi komandan Osttürkischer Waffen-Verband der SS dari tanggal 20 Oktober 1944 sampai dengan bulan Februari tahun 1945 menggantikan Andreas Meyer-Marder. Unit ini dibentuk dari tiga batalion Wehrmacht nomor 450, 480, dan Batalion ke-1 Infanterieregiment 94, dengan komandan pertamanya adalah mantan Mayor Angkatan Darat (Heer), Andreas Meyer-Marder. Unit ini kemudian dimasukkan sebagai bagian dari Waffen-SS pada awal tahun 1944. Bagian dari unit ini adalah Waffengruppe Aserbeidschan, Waffen-Gebirgs-Brigade der SS (Tatarische Nr.1) di bawah pimpinan Willy Fortenbacher, pemegang penghargaan The Cross of Honour 1914-1918. Osttürkischer Waffen-Verband der SS sendiri menjadi bagian dari Waffengruppe Krim.

Unit Hintersatz bertempur di wilayah pegunungan Ural dan Asia Tengah melawan Komunis Rusia dari tahun 1944-1945, dan mendapatkan simpati yang luar biasa dari masyarakat lokal yang kebanyakan beragama Islam, karena kesamaan pandangan dalam hal anti-komunis dan juga unit ini mengakomodir umat Muslim untuk bergabung, apalagi komandannya juga seorang mualaf.

Ada yang berkata bahwa Hintersatz diberhentikan dari tugasnya tak lama setelah peristiwa desersi dari I./W-Grp. d. SS "Turkestan", dan digantikan oleh Hauptsturmführer Franz-Josef Fürst (beberapa sumber menyebutkan namanya sebagai Georg Fürst). Yang jelas, Hintersatz tetap setia bersama unitnya tersebut sampai berakhirnya perang, tetap berjuang walaupun tahu bahwa pihaknya berada di pihak yang kalah. Dalam hampir semua sumber disebutkan bahwa Fürst (nanti pangkatnya naik menjadi Sturmbannführer) menggantikan Hintersatz di bulan Februari 1945 sampai dengan berakhirnya perang. Hal ini tidak sepenuhnya benar meskipun tidak pula sepenuhnya salah (bingung?). Intinya, Fürst memang menjadi komandan dari SEBAGIAN unit Osttürkischer Waffen-Verband der SS yang bermarkas di Slovakia. Sturmbannführer Fürst sendiri dilaporkan MIA (missing in action) pada akhir bulan April 1945 di wilayah Karlsbad.

Seperti yang dijelaskan oleh Profesor Kurt Tauber dalam dua volume bukunya "Beyond Eagle And Swastika" (diterbitkan tahun 1967) yang membahas mengenai fenomena nasionalisme anti-demokrasi Jerman pasca Perang Dunia II, Wilhelm Harun El-Raschid Bey Hintersatz kemudian menulis buku yang berisi pengalam pribadinya selama Perang Dunia Pertama dan Kedua : Orient Und Occident, Ein Mosaik Aus Buntem Erleben (Dari Orient dan Occident, Mosaik Pengalaman Berwarna-Warni) yang dipubikasikan tahun 1954.

Hintersatz menghembuskan nafas terakhirnya tanggal 29 Maret 1963.

Karir kemiliteran Hintersatz :
- Major Wehrmacht (1939-1944)
- Bergabung dengan Waffen-SS (496147)
- SS-Sturmbannführer (3 Agustus 1944)
- SS-Obersturmbannführer (1 September 1944)
- SS-Standartenführer (1 Oktober 1944)
- Komandan Osttürkischer Waffen Verband der SS (20 Oktober 1944 - Mei 1945).

Penghargaan yang telah diraih oleh Hintersatz:
- Preussische Rettungsmedaille,
- EK-II (septembre 1914),
- EK-I (1915),
- Komturkreuz der Orden von d. Weissen Rose Finnlands,
- Österreichische MVK 3. kl mit KD,
- Lippisches-Detmold KVK,
- Hamburgisches Hanseatenkreuz,
- Herzoglich Sächsen Ernestinischer Hausorden Ritterkreuz 2. kl mit Schwertern (7 avril 1917),
- Georgien Orden d. Heiligen Tamara,
- Türkischer Eiserner Halbmond,
- Türkischer Silberne Liakat Medaille mit Schwertern Spange,
- Türkische Medjidie Orden 2. kl mit Schwertern,
- Türkische Silberne Roten Sichelförmige Medaille,
- Verwundeten Abzeichen in Silber.
- Ehrenkreuz des Weltkrieges 1914-1918 mit Schwertern,
- Wehrmacht Dienstauszeichnung 18 jahr.

Daftar buku karya Hintersatz :
– Marschall Liman von Sanders Pascha und sein Werk. R. Eisenschmidt. Berlin. 1932.
– Schwarz oder Weiß? Joh. Kasper & Co. Berlin. 1940. 289 S.
– Achtung! Erdstrahlen sind Gefahr für Mensch, Tier und Pflanzenhaltung! Die Wünschelrute warnt! Eisenschmidt. Wiesbaden. Berlin. 1952. 32 S.
– Aus Orient und Occident – Ein Mosaik aus buntem Erleben. Deutscher Heimat-Verlag. Bielefeld. 1954. 267 S.


0 komentar:

Kamis, 04 Oktober 2012

Volkssturmgewehr, Senjata Khusus Untuk Volkssturm

File:Volkssturmgewehr (Sketch).jpg
Bentuk desain Gustloff Volkssturmgewehr

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/17/Bundesarchiv_Bild_183-J28787%2C_Volkssturmbataillon_an_der_Oder.jpg 
Tentara Volkssturm di tepi sungai Oder, 1945. Tentara yang berada di sebelah kiri membawa Volkssturmgewehr


Volkssturmgewehr 1-5 adalah satu set dari lima desain senapan yang dikembangkan oleh Nazi Jerman selama bulan-bulan terakhir Perang Dunia II. Desainnya sederhana, berasal dari Mauser 98K, tetapi dengan bagian-bagian yang berkualitas buruk dan penyelesaian kasar. Ada kebingungan menyangkut penyebutannya, sumber-sumber berbicara tentang VG 1-5, Volkssturmgewehr 1-5, Versusch-Gerät 1-5, Gustloff dan Gustloff Geräts 507.  Hal ini sering diyakin bahwa VG 1-5 mengacu pada jenis tertentu, biasanya desain Gustloff, senapan semi otomatis berbilik untuk kaliber 7.92x33mm Kurz.

Pada akhir tahun 1944 kedudukan Jerman sudah semakin terdesak. Angkatan Bersenjata Jerman kehilangan banyak tentaranya di Front Timur maupun Front Barat. Maka dimulailah mobilisasi Volkssturm (Milisi Nasional Jerman). Volkssturm perlu dipersenjatai namun senapan yang tersedia tidak mencukupi. Untuk alasan itu Primmitiv Waffen Programm (Program Senjata Primitif) diprakarsai. Itu adalah sebutan untuk senjata-senjata yang sangat mudah untuk diproduksi.

Beberapa perusahaan menyodorkan desain mereka, semua sangat dasar dan mentah pada penyelesaian. Walther merancang Volkssturmgewehr VG 1, Spreewerk Berlin merancang VG 2, Rheinmetall merancang VG 3, Mauser merancang VG 4 dan Steyr merancang VG 5. Semua desain senapan ini masuk dalam kategori bolt-action dan berasal dari Mauser 98K.

Selain itu ada desain lainnya yang diproduksi oleh perusahaan lain. Paling dikenal adalah Volkssturmgewehr buatan Gustloff. Dalam minggu-minggu terakhir Third Reich, sistem komunikasi runtuh dan tidak ada produksi yang teroganisir dapat dimulai. Akhirnya Gauleiter lokal memerintahkan para produsen senjata di daerah mereka untuk memulai produksi. Tidak jelas persis berapa banyak senjata yang diproduksi.

0 komentar:

Selasa, 02 Oktober 2012

Schwere SS-Panzer Abteilung 101/501

Sebuah Königstiger dengan turmnummer 105 yang dikomandani oleh SS-Obersturmführer Jürgen Wessel dari schwere SS-Panzer-Abteilung 501 teronggok tak berdaya Rue Haut Rivage, Stavelot, Belgia, tanggal 18 Desember 1944. Tank raksasa ini ditinggalkan oleh awaknya setelah terkena tembakan senjata anti-tank. Supirnya terpaksa menabrakkannya ke sebuah rumah dan membuatnya tidak berfungsi sebelum ditinggalkan


Schwere SS-Panzer-Abteilung 101 dibentuk bulan Juli 1943 yang anggotanya diambil dari para kader  SS Panzer Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" dan ditempatkan sebagai bagian dari I SS Panzerkorps Leibstandarte Adolf Hitler.

Pada awalnya dia berada di bawah komando 1. SS-Panzer-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" dan dikirim ke Italia bulan Agustus 1943. Dua dari kompinya kemudian dikirimkan ke Front Timur dan tetap berada disana sampai bulan April 1944.

Setelahnya, schwere SS-Panzer Abteilung 101 ditugaskan sebagai bagian dari 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend" dan bertempur melawan pasukan Sekutu di Normandia dengan menderita korban besar.
 
Batalyon tank berat ini lalu dilengkapi dengan tambahan tank-tank dari jenis Panzerkampfwagen VI Tiger II (Köningstiger) bulan September 1944 dan dinamai ulang sebagai schwere SS-Panzer-Abteilung 501.

Schwere SS-Panzer Abteilung 501 ikut bertempur dalam Ofensif Ardennes (Battle of the Bulge) yang gagal sebelum dikirim ke Front Timur sebagai penugasan terakhirnya.
 
 
Komandan 
SS-Sturmbannführer Heinz von Westerhagen (19 Juli 1943 - 8 November 1943)
SS-Obersturmbannführer Karl Leiner (9 November 1943 - 13 Februari 1944)
SS-Obersturmbannführer von Heinz Westerhagen (13 Februari 1944 - 20 Maret 1945)
SS-Sturmbannführer Heinz Kling (20 Maret 1945 - 8 Mei 1945)
 
Wilayah Operasi
Italia (Agustus 1943 - Oktober 1943) 
Front Timur (Oktober 1943 - April 1944) 
Prancis (April 1944 - September 1944) 
Jerman (September 1944 - Desember 1944)
Ardennes (Desember 1944 - Januari 1945) 
Front Timur (Januari 1945 - Mei 1945)
 
Kampanye:
1. Front Barat
 
Tank baru: 51
Transfer masuk: 0
Transfer keluar: 6
Korban: 45
Tipe tank: Tiger I
 
2. Front Barat
 
Tank baru: 37
Transfer masuk: 0
Transfer keluar: 6
Korban: 31
Tipe tank: Tiger II
 
Peraih Medali Bergengsi
Peraih Deutsches Kreuz in Gold (3)
1. Amselgruber, Thomas, 14.02.1945, SS-Untersturmführer d.R., 3./s.SS-Pz.Abt. 501
2. Brandt, Jürgen, 13.01.1945, SS-Oberscharführer, s.SS-Pz.Abt. 501  
3. Rabe, Dr. Wolfgang, 14.11.1944, SS-Hauptsturmführer, s.SS-Pz.Abt. 101
Peraih Deutsches Kreuz in Silber (tidak ada)
Peraih Ehrenblattspange der Waffen-SS (1)
1. Philipsen, Johannes, 15.08.1944, SS-Obersturmführer, 1./s.SS-Pz.Abt. 101
Peraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (1) (1 Schwerter)
1. Wittmann, Michael [71. Sw] 22.06.1944 SS-Obersturmführer Chef 2./s.SS-Pz.Abt 501

Anggota yang menonjol
1. SS-Sturmbannführer Heinrich "Heinz" Kling (umumnya mendapat kredit 51 tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
2. SS-Untersturmführer Karl-Heinz "Bobby" Warmbrunn (umumnya mendapat kredit 57 tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
3. SS-Obersturmführer Helmut Wendorff (umumnya mendapat kredit 84 tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
4. SS-Hauptsturmführer Michael Wittmann (umumnya mendapat kredit 138 tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
5. SS-Oberscharführer Balthazar "Bobby" Woll (umumnya mendapat kredit 100+ tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
 
 

0 komentar: