Minggu, 29 Juli 2012

Pembantaian Katyn, Eksekusi Orang-Orang Polandia Oleh Pasukan Soviet

http://cdn2.all-art.org/Visual_History/world_wars/7/Katyn_massacre3.jpg

http://3.bp.blogspot.com/_cIzApUoKBXc/S75ivA7mt1I/AAAAAAAAABg/7KD2Npd5hFA/s1600/Katy%C5%84,_ekshumacja_ofiar.jpg

http://foto.poland.gov.pl/cache/imgs/_w800/gallery/image/706.jpg

http://bookhaven.stanford.edu/wp-content/uploads/2010/12/Katyn-exhibit-image-3.jpg
Sebagian dari foto korban Pembantaian Katyn yang diambil oleh Nazi Jerman


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/e/e6/Les_mrtvych_v_Katyne.jpg/441px-Les_mrtvych_v_Katyne.jpg
Poster propaganda Nazi tentang Pembantaian Katyn. Di kemudian hari propaganda ini menjadi fakta tak terbantahkan

Pembantaian Katyn sering disebut tragedi Katyn, adalah pembantaian yang dilakukan oleh Komite Rakyat Intern Soviet (NKVD) terhadap para tawanan perang, tokoh cendikiawan, polisi dan pejabat negara Polandia lainnya yang ditangkap pada musim semi 1940. Selain menjadi sebutan untuk peristiwa pembantaian terhadap para perwira Polandia di kamp tawanan Perang Kozelsk di Hutan Katyn, juga termasuk pembantaian terhadap tawanan perang yang terjadi di kamp tawanan Perang Sitaluobai dan Ostashkov, serta pembantaian tawanan politik di White Russia barat dan Ukraina barat.

Di antara serangkaian pembantaian ini, skala pembantaian Katyn merupakan yang terbesar. Namun karena adanya peraturan wajib militer di Polandia maka semua siswa tamatan perguruan tinggi diwajibkan mengikuti wamil dan mengikuti pelatihan perwira militer. Artinya komunis Soviet telah membunuh cendikiawan Polandia dalam jumlah besar.

Berawal dari usulan Lavrenti Pavles dze Beria untuk menghabisi seluruh perwira Polandia. Dokumen resmi usulan tersebut akhirnya disetujui dan ditanda-tangani seluruh anggota Dinas Politik Pusat Partai Komunis Soviet (termasuk Stalin dan Beria). Setelah Soviet mengirim pasukannya ke Polandia pada 17 September 1939, Beria memberi laporan secara rinci mengenai jumlah dan situasi para tawanan di 3 kamp tawanan perang dan penjara lain, termasuk uraian mengenai jabatan militer serta sikap politik para perwira tersebut.

Pada laporan tertulis jelas bahwa mereka semua adalah “musuh bebuyutan” Soviet, oleh karena itu dianjurkan untuk menempuh pengadilan “cara khusus” dengan hukuman terberat ‘tembak mati’. Berdasarkan laporan inilah, pihak penguasa Soviet memberikan kuasa kepada Dinas Rakyat Intern Soviet untuk menembak mati 25.700 orang tawanan yang disebutkan dalam laporan tersebut.

Malam sebelum PD II, pada 23 Agustus 1939, Uni Soviet dan Jerman secara resmi menandatangani kesepakatan “Aturan Tidak Saling Invasi Jerman dan Soviet” di Moskow. Di tahun yang sama Jerman mengirim pasukan ke Polandia, sementara Soviet juga mengirim pasukan dengan dalih “melindungi keselamatan warga Ukraina barat dan White Rusia Barat”.

Pada 18 September 1939, Komandan Utama Tentara Polandia menurunkan perintah bahwa Uni Soviet bukan negara musuh dan meminta untuk tidak melancarkan perlawanan, karena ada 130.242 perwira dan prajurit Polandia menjadi tawanan perang Soviet. Pada 19 September dibangun 8 buah kamp konsentrasi untuk menyekap para tawanan Polandia itu. Selama masa pertukaran tawanan perang antara Jerman dan Soviet, masih tersisa lebih dari 20.000 perwira dan pejabat administratif di kamp konsentrasi.

13 April 1943, tentara NAZI Jerman yang berhasil menyerbu masuk ke dalam perbatasan Soviet mengumumkan bahwa tentara Jerman yang pernah menguasai Kota Smolensk milik Soviet pernah mendapati kuburan masal perwira Polandia yang dibantai oleh militer Soviet di wilayah Hutan Katyn. Setelah hal tersebut diselidiki oleh Komite Internasional yang dibentuk pihak Jerman, dipastikan bahwa para perwira dan prajurit yang mengenakan seragam militer Polandia itu tewas sekitar musim semi 1940 karena dibunuh Uni Soviet.

15 April 1943, Uni Soviet mengeluarkan dokumen resmi yang menyangkal hal ini, dan menyatakan bahwa para tawanan perang Polandia tersebut jatuh ke tangan tentara Jerman setelah Jerman berhasil menyerbu masuk Soviet, dan mereka dibunuh oleh tentara Jerman.

Setelah itu, Soviet dan Jerman masing-masing membentuk tim intel untuk dikirim ke Katyn guna melakukan penyelidikan, namun tidak pernah didapat hasil penyelidikan yang jelas.

Setelah PD II, kedua belah pihak baik Jerman maupun Soviet sama-sama tidak punya bukti kuat untuk membuktikan siapakah yang bertanggung jawab atas kejahatan perang tersebut, karena Pengadilan Militer Internasional Nuremberg tidak bisa mengambil keputusan. Kasus ini pun menjadi misteri tak terpecahkan sejak PD II.

13 April 1990, saat Presiden Polandia, Jaruzelski, berkunjung ke Soviet, Gorbachev mengakui bahwa tragedi kejam itu adalah “dosa paham Stalin”.

0 komentar: