Tampilkan postingan dengan label Unit dan Organisasi Nazi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2013

Volkssturm, Milisi Nasional Jerman di Akhir Perang Dunia II

File:Bundesarchiv Bild 146-1971-033-15, Vorbeimarsch des Volkssturms an Goebbels, Berlin.jpg
Barisan Volkssturm, November 1944

File:Bundesarchiv Bild 183-J28787, Volkssturmbataillon an der Oder.jpg
Para anggota Volkssturm yang mempertahankan daerah Sungai Oder, Februari 1945

File:Bundesarchiv Bild 183-J31391, Berlin, Volkssturm, Ausbildung.jpg
Seorang anggota Volkssturm tengah berlatih menggunakan Panzerfaust

File:Volkssturm armband.svg
Ban lengan Volkssturm


Volkssturm adalah milisi nasional Jerman yang didirikan beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir. Volkssturm tidak didirikan Wehrmacht, melainkan didirikan oleh Partai Nazi sendiri atas perintah Adolf Hitler pada 18 Oktober 1944. Anggotanya diambil dari laki-laki dengan usia antara 16 hingga 30 tahun.

Volkssturm sendiri terinspirasi dari Prussia Landsturm di periode 1813-1815 yang berjuang menghadapi pasukan Napoleon, sebagai pasukan gerilya. Rencana untuk membentuk milisi Landsturm di Jerman Timur sebagai upaya terakhir meningkatkan kekuatan pertempuran awalnya berasal dari kepala Obberkommando der Heeres, Jenderal Heinz Guderian pada tahun 1944.

Karena Wehrmacht kekurangan tenaga untuk menahan serbuan Uni Soviet, laki-laki dalam pekerjaan yang sebelumnya dipandang tidak perlu atau dianggap tidak layak sekarang dipanggil di bawah komando militer. Sebenarnya Volkssturm sudah ada, di atas kertas, sejak sekitar tahun 1925, namun itu hanya setelah Hitler memerintahkan Martin Bormann untuk merekrut 6 juta orang untuk milisi. Kekuatan yang terdiri dari 6 juta orang ini tidak pernah terlaksana.

Goebbels dan propagandis lainnya menggambarkan Volkssturm sebagai ledakan antusiasme dan siap bertempur. Hal ini menimbulkan sedikit moral namun dirusak oleh mereka terlihat dari kurangnya seragam dan persenjataan untuk bertempur.

Dalam rangka agar unit-unit milisi ini menjadi efektif, Hitler dan Bormann menghitung tidak hanya dari kekuatan dalam jumlah, namun juga dari fanatisme. Selama tahap awal pembentukan Volkssturm, menjadi jelas bahwa jika unit milisi tidak memiliki moral mereka akan kekurangan efektivitas tempur. Untuk mencapai pertimbangan fanatisme, Volkssturm ditempatkan langsung di bawah Partai Nazi (dengan Gauleiter dan Kreisleiter lokal). Volkssturm juga menjadi organisasi nasional, dengan Heinrich Himmler sebagai Komandan Penggantian Angkatan Darat, yang bertanggung jawab untuk pelatihan dan persenjataan. Meski ditempatkan di bawah kendali partai, Volkssturm ditempatkan di bawah komando Wehrmacht saat terlibat dalam pertempuran.

Dengan Partai Nazi sebagai penanggung jawab penyelenggaraan Volkssturm, masing-masing Gauleiter dan Pemimpin Distrik Partai Nazi, dibebankan dengan kepemimpinan, pendaftaran dan organisasi Volkssturm di daerah mereka.

Unit dasarnya adalah satu batalion dengan jumlah anggota 642 orang. Unit-unit Volkksturm nyaris semuanya dari anggota Hitlerjugend, orang cacat, orang tua, atau orang-orang yang sebelumnya telah dianggap tidak layak untuk dinas militer.

Anggota Volkssturm mudah dikenali dari ban lengan dengan kata-kata "Deutscher Volkssturm Wehrmacht" yang terikat pada lengan, dengan serangkaian pips perak untuk kerah yang dipasangkan pada kerah seragam si pemakai. Meskipun pemerintah Jerman sudah mengeluarkan seragam resmi abu-abu atau kamuflase untuk para anggota Volkssturm, namun tidak dapat diberikan pada semua anggota. Maka banyak juga anggota Volkssturm yang mengenakan seragam paramiliter darurat atau seragam pekerjaan sipil mereka.

Adapun dalam kepangkatan Volkssturm dapat dibagi menjadi urutan pangkat dari yang tertinggi hingga yang terendah sebagai berikut:

1. Bataillonsführer (Mayor, dengan empat pip perak di kerah)
2. Kompanieführer (Kapten, dengan tiga pip perak di kerah)
3. Zugführer (Letnan, dengan dua pip perak di kerah)
4. Gruppenführer (Kopral, dengan satu pip perak di kerah)
5. Volkssturmann (Prajurit, tanpa pip perak di kerah)
Read more

Selasa, 01 Januari 2013

Blaue Division, Sukarelawan Spanyol Dalam Tubuh Wehrmacht

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/df/Blue_division.svg/1000px-Blue_division.svg.png
Gambar perisai yang dijahitkan di lengan kanan atas pada seragam abu-abu Blaue Division, dengan warna nasional Spanyol

http://worldwartwozone.com/gallery.old/500/medium/IMG_000120.jpg
Sebuah foto dari Blaue Division yang diberi pewarnaan

http://media.desura.com/images/members/1/442/441777/darte2.jpg
Sebuah lukisan yang menggambarkan aksi Blaue Division dalam pertempuran

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/c4/Agustin_Munoz_Grandes.jpg
Jenderal Agustín Muñoz Grandes

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/6/6f/Emilio_Esteban_Infantes.JPG
Jenderal Emilio Esteban Infantes


Blaue Division (Inggris: Blue Division, Indonesia: Divisi Biru) adalah unit sukarelawan Spanyol yang bertugas dalam tubuh Wehrmacht pada Front Timur di saat Perang Dunia II berlangsung. Nama resmi divisi ini adalah División Española de Voluntarios oleh Spanyol dan 250. Infanterie-Division oleh Wehrmacht.

Meskipun Field Marshall (Generalisimo) Fransisco Franco tidak ikut berperang bersama Nazi Jerman, ia memperbolehkan para relawan untuk bergabung dengan Wehrmacht, bertempur di Front Timur melawan Uni Soviet, bukan untuk bertempur melawan Sekutu di Front Barat. Dengan demikian ia mampu menjaga perdamaian dengan Sekutu di Barat sementara ia juga dapat membalas jasa Hitler atas dukungannya selama Perang Saudara Spanyol. Menteri Luar Negeri Spanyol Ramon Serrano Suner membuat usulan untuk mengangkat korps sukarelawan, dan pada saat Operasi Barbarossa dimulai, Franco mengirimkan tawaran resmi untuk Hitler.

Hitler menyetujui penggunaan relawan Spanyol pada tanggal 24 Juni 1941. Para relawan berbondong-bondong mendatangi ke kantor perekrutan di seluruh Spanyol. Awalnya Spanyol siap mengirimkan sekitar 4.000 anggota sukarelawan, namun segera menyadari bahwa lebih dari cukup para relawan yang siap mengisi divisi: 18.104 laki-laki semua, dengan 2.612 perwira dan 15.492 tentara.

Sebanyak 50% dari para relawan adalah tentara profesional, banyak dari mereka para veteran Perang Saudara Spanyol. Ada lagi dari anggota Falange (Partai Fasis Spanyol). Yang lainnya, dengan tekanan karena hubungan masa lalu dengan Republik atau untuk membantu keluarga mereka di penjara-penjara Franco.

Jenderal Agustín Muñoz Grandes ditugaskan untuk memimpin para relawan. Karena tidak bisa menggunakan seragam resmi tentara Spanyol, mereka mengadopsi seragam simbolik yang terdiri dari baret merah Carlists, celana khaki yang digunakan dalam Legiun Spanyol, dan kemeja biru Falangis (karena itulah divisi ini dinamakan Divisi Biru). Seragam ini hanya digunakan pada saat cuti. Sementara untuk tugas di lapangan, mereka mengenakan seragam Wehrmacht Heer abu-abu dengan jahitan gambar perisai di lengan kanan atas bantalan kata "España" dan warna nasional Spanyol.

Pada tanggal 13 Juli 1941 kereta pertama meninggalkan Madrid ke Grafenwohr, Bavaria untuk pelatihan selama lima minggu. Disana mereka menjadi 250. Infanterie-Division Heer, dan awalnya dibagi menjadi empat resimen infanteri, seperti dalam standar Divisi Spanyol. Untuk membantu integrasi mereka ke dalam sistem pasokan Jerman, mereka segera mengadopsi model Heer, tiga resimen. Setiap resimen memiliki tiga batalyon dan dua kompi bersenjata. Sementara Relawan Aviator membentuk Skuadron Biru (Escuadrillas Azules) dengan menggunakan pesawat tempur Messerschmitt Bf-109 dan Focke Wulf Fw-190, dengan hasil akhir telah berhasil merontokkan 156 pesawat tempur Uni Soviet.

Kemudian di tanggal 31 Juli setelah pengambilan sumpah standar untuk Hitler, di bawah wewenang mereka untuk berjuang, Blaue Division secara resmi dimasukkan ke dalam Wehrmacht sebagai Divisi Ke-250. Pada awalnya ditetapkan ke Pusat Grup Angkatan Darat, pasukan bergerak menuju Moskow. Divisi ini diangkut dengan kereta api ke Suwalki, Polandia (28 Agustus), dari tempat itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sepanjang 900 km melalui Grodno (Belarus), Lida (Belarus), Vilnius (Lithuania), Molodechno (Belarus), Minsk (Belarus), Orsha (Belarus) ke Smolensk, dan dari sana ke Moskow. Sementara berbaris ke arah depan Smolensk tanggal 26 September, para relawan Spanyol yang dialihkan dari Vitebsk dipindahkan ke Grup Tentara Utara menjadi bagian Angkatan Darat Ke-16 Jerman.

Blaue Division pertama kali ditempatkan di depan sungai Vokhov, dengan kantor pusatnya di Grigorovo, di pinggiran Novgorod. Mereka bertugas di bagian kilometer 50 dari Utara dan Selatan depan Novgorod, di sepanjang tepi Sungai Vokhov dan Danau Ilmen. Menurut kurator museum di gereja Spasa Preobrazheniya, Blaue Division menggunakan kubahnya sebagai tempat para penembak senapan mesin. Akibatnya, banyak bangunan yang rusak parah, termasuk banyak dari ikon abad pertengahan Feofan The Greek.

Pada bulan Agustus 1942, Blaue Division dipindahkan ke sisi Tenggara dari Pengepungan Leningrad, hanya di selatan dari Neva dekat Pushkin, Kolpino dan Krasny Bor di daerah Sungai Izhora.

Blaue Division yang menghadapi Red Army Soviet mencoba untuk mematahkan Pengepungan Leningrad pada bulan Februari 1943, dimana Tentara Uni Soviet Ke-55 yang memperkuat diri kembali setelah kemenangan epik di Stalingrad, menyerang posisi mereka dalam Pertempuran Krasny Bor, dekat jalan utama Moskow-Leningrad. Meksipun banyak korban yang jatuh, Blaue Division berhasil mempertahankan posisi mereka melawan Red Army yang jumlahnya 7 kali lebih besar dan didukung tank. Kemenangan ini mendatangkan reputasi Blaue Division. Mereka tetap berada di Leningrad dimana mereka menderita karena musim dingin menghadapi serangan musuh. Maka Franco pun mengirimkan bala bantuan, yang saat itu adalah orang-orang yang berada dalam wajib militer selain relawan.

Melalui rotasi, sebanyak 45.000 tentara Spanyol yang bertugas di Front Timur. Mereka dianugerahi dua penghargaan dari militer Spanyol dan Jerman. 

Setelah kekalahan Jerman di Stalingrad, situasi berubah dan lebih banyak pasukan Jerman yang dikerahkan ke Selatan. Pada saat itu, Jenderal Emilio Esteban Infantes telah mengambil alih komando.

Akhirnya, pihak Sekutu dan Konservatif mendesak Franco untuk melakukan penarikan pasukan dari Front Timur. Franco memulai negosiasi pada musim semi 1943 dan memberikan perintah penarikan pada 10 Oktober.

Beberapa tentara Spanyol menolak ditarik mundur. Beberapa percaya bahwa Franco memberikan izin asalkan jumlahnya di bawah 1.500 pasukan. Namun pemerintah Spanyol pada tanggal 3 November 1943, memerintahkan semua pasukan untuk kembali ke Spanyol. Pada akhirnya, yang tidak kembali ada 3.000 pasukan. Sebagian besar dari mereka adalah Falangis. Mereka juga bergabung dengan unit tempur Jerman lainnya, terutama Waffen-SS, dan relawan baru menyelinap melintasi perbatasan Spanyol dekat Lourdes. Unit pro-Jerman yang baru ini dinamakan Azul Legiun (Legiun Biru).

Orang-orang Spanyol ini awalnya tetap bagian dari 121. Infanterie-Division, tetapi juga mereka diperintahkan untuk kembali ke Spanyol di bulan Maret 1944. Mereka kembali pada tanggal 24 Maret. Sisa dari para relawan ini diserap ke unit Jerman.

Peleton dari Spanyol bertugas di 3. Gebirgs-Division dan 357. Infanterie-Division. Satu unit dikirim ke Latvia. Dua kompi bergabung dengan Resimen Brandenburger dan 121. Division di Yugoslavia untuk menghadapi partisan Tito. Lima puluh orang Spanyol pro fasis (beberapa di antaranya adalah mantan Spanyol pro komunis dari Republik Spanyol Kedua) memasuki Pyrennees (Prancis) untuk memerangi anggota Perlawanan Prancis.

140 orang dari 101. Kompanie (Spanische-Freiwilligen Kompanie der SS 101/Kompi Relawan Spanyol SS No. 101) terdiri atas 4 peleton bersenjata dan 1 peleton staf, dipasangkan pada 28. SS-Freiwilligen Grenadier-Division "Wallonien" dan bertempur di Pomerania dan Brandenburg ketika Red Army menyerbu Jerman Timur. Kemudian, sebagai bagian dari 11. SS-Freiwilligen Panzergrenadier Division "Nordland" dan di bawah komando SS-Hauptsturmführer Miguel Ezquerra, kompi ini bertempur di hari-hari terakhir perang melawan pasukan Soviet di Berlin.

Korban dari Blaue Division dan penerusnya mencakup 4.594 orang tewas dan 8.700 orang terluka. Lainnya, 372 anggota dari Blaue Division, Azul Legiun atau para relawan dari Spanische-Freiwilligen Kompanie der SS 101 ditawan oleh Soviet. 286 orang dari mereka tetap ditawan hingga 2 April 1954 ketika mereka kembali ke Spanyol dengan kapal "Semiramis", yang disediakan oleh Palang Merah Internasional.
Read more

Jumat, 16 November 2012

Sejarah Feldgendarmerie (Polisi Militer) Di Era Nazi Jerman

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/fc/Bundesarchiv_Bild_101I-007-2477-06%2C_Russland%2C_Milit%C3%A4rpolizei_in_Partisanengebiet.jpg
Feldgendarmerie sedang beroperasi di wilayah pendudukan di Rusia, Juli 1941. Di belakang mereka ada papan peringatan bahaya partisan

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f3/German_soldiers_guarding_a_food_dump.jpg
Feldgendarmerie tengah menjaga sebuah truk berisi makanan di Belanda

Feldgendarmerie Fallschirmjäger di Normandia, 1944


Feldgendarmerie (Polisi Militer) adalah unit berseragam polisi militer dari Tentara Kekaisaran Jerman dari tahun 1810 hingga akhir Perang Dunia II. Unit militer ini dibentuk di Saxony.

Ketika Adolf Hitler naik menjadi pemimpin Jerman di tahun 1933, Feldgendarmerie kemudian dimasukkan ke dalam Wehrmacht. Unit-unit yang baru menerima pelatihan infanteri penuh dan diberi kekuasaan polisi yang luas. Sebuah sekolah militer didirikan di Postdam, untuk melatih personel Feldgendarmerie. Mata pelajaran yang diajarkan meliputi KUHP, kekuasaan polisi umum dan khusus, paspor dan hukum identifikasi, latihan senjata, teknik pertahanan diri, metode pidana kepolisian, dan administrasi umum.

Semua kandidat calon disajikan pada perintah Feldgendarmerie setelah jangka pertama pengujian. Kursus berlangsung satu tahun dan tingkat kegagalan yang tinggi: pada tahun 1935 hanya 89 tentara lulus dari 219 kandidat. Feldgendarmerie dipekerjakan dalam divisi tentara dan sebagai unit mandiri yang berada dibawah komando korps tentara. Mereka sering bekerja dalam kerjasama yang erat dengan Geheime Feldpolizei (Polisi Lapangan Rahasia), komandan distrik, SS dan pimpinan polisi.

Unit Feldgendarmerie umumnya diberi tugas pendudukan langsung di wilayah langsung di bawah kendali Wehrmacht. Tugas kepolisian di belakang garis depan mulai dari kontrol lalu lintas langsung, kontrol populasi terhadap penekanan dan eksekusi terhadap partisan, dan penangkapan pejalan kaki musuh.

Ketika unit-unit tempur bergerak maju ke suatu daerah, maka peran Feldgendarmerie sebagai pengontrol secara resmi berakhir kemudian dipindahkan ke otoritas pendudukan dibawah kendali Partai Nazi dan SS.

Di tahun 1943, gelombang perang berubah bagi Nazi Jerman. Kali ini Feldgendarmerie bertugas sebagai pendisiplin dalam Wehrmacht. Banyak tentara biasa yang melakukan desersi dieksekusi oleh Feldgendarmerie. Feldgendarmerie juga digabungkan dalam Strafbattalion (Batalyon Pidana), yang merupakan unit hukuman Wehrmacht yang diciptakan untuk prajurit yang dihukum oleh pengadilan militer dan dijatuhkan hukuman eksekusi yang ditangguhkan. Di hari-hari terakhir Nazi Jerman, banyak rekrutan atau prajurit yang melakukan pelanggaran kecil dikirim ke Strafbattalionen.

SS juga memiliki Feldgendarmerie, yang dikenal dengan SS-Feldgendarmerie. Seragam yang dikenakan sama dengan Feldgendarmerie Heer namun memiliki gelar penambahan manset yang menunjukkan mereka adalah polisi militer. Tugasnya pun sama. Khusus untuk SS-Feldgendarmerie, dilambangkan dengan berlian Polizei-Adler yang dikenakan pada lengan bawah.

Di saat Jerman menyerah pada Mei 1945, Feldgendarmerie tetap diizinkan memegang senjata dikarenakan untuk menjaga para tawanan Sekutu. Sebagai contoh Korps VIII Inggris berbasis di Schleswig-Holstein menggunakan sebuah resimen relawan Feldgendarmerie untuk menjaga kedisiplinan di pusat demobilisasi di Meldorf. Feldgendarmerie menjadi unit terakhir Jerman yang menyerahkan senjata mereka pada bulan Juni 1946.
Read more

Minggu, 11 November 2012

7.Staffel (Aufklärung)/Lehrgeschwader 2, Pengintai "Kepala Iblis" Yang Musnah Dalam Pertempuran Stalingrad

Sebuah Messerschmitt Bf-110 E-3 "L2+SR" dari 7.(F)/LG-2 yang diabadikan di lapangan udara Sofia-Vrazdebna (Bulgaria) awal bulan April 1941 saat pasukan Jerman bersiap untuk menyerang Yunani dan Yugoslavia. Penanda identitas kuning telah ditambahkan ke pesawat (perhatikan bahwa lambang Staffel "Teufelskopf" tidak ikut-ikutan dihantam kuning saat bagian hidung selebihnya dicat.). Ujung baling-balingnya berwarna putih, yang merupakan warna resmi 7.(F)/LG-2. Lubang pemanas udara yang terdapat di bagian hidung serta sepasang rak bom ETC 50 di bawah sayap merupakan fitur yang paling menonjol dari Bf-110 seri E. Pembungkus berbahan kanvas telah ditutupkan ke bagian mesin dan roda. Pesawat ini sendiri menggunakan pola kamuflase abu-abu standar (RLM 74/75/76) dengan bodi bagian pinggir berbintik-bintik

Foto lain dari Messerschmitt Bf 110 E-3 "L2+SR" yang sedang nongkrong di landasan udara Sofia-Vrazdebna, awal April 1941. dalam foto ini seluruh bagian kokpit ditutupi kain terpal. Ekornya yang berwarna kuning jelas kelihatan, sementara huruf "S" dibuat dengan menggunakan warna putih Staffel. Perhatikan pula bintik-bintik yang bertebaran di seluruh bagian samping pesawat

Messerschmitt Bf-110 C-5 "L2+OR" dari 7.(F)/LG-2 difoto di lapangan udara Kalamaki-Athena sekembalinya dari misi di atas Kreta. Persenjataan pesawat ini terdiri dari empat buah senapan mesin MFG-17 di hidung bagian atas; dua buah kanon MG FF yang seharusnya ditempatkan di hidung bagian bawah telah dicopot dan digantikan dengan kamera Rb 50/30. Sang pilot, yang terlihat sedang turun dari kokpit, mengenakan schwimmweste (rompi pelampung) dan peluru suar di sepatu terbang bagian kanannya. Perhatikan baluran kamuflase hasil modifikasi di ujung depan sayap. Warna lingkaran ujung baling-baling dicat putih sesuai warna resmi Staffel

Messerschmitt Bf-110 C-5 "L2+MR" dari 7.(H)/LG-2 di Rusia musim panas 1942, kemungkinan di lapangan udara Stalino. Pilotnya sedang duduk santai sambil menulis di tengah musim panas yang menghangatkan sembari menunggu perintah untuk tinggal landas. Perhatikan tangki bahan bakar tambahan 300-l yang terpasang di bawah sayap, matras karet yang terhampar di bagian atas sayap, serta kode unit “L-2”. Uniknya, dalam foto-foto yang memperlihatkan 7.(H)/LG-2 selama masa tugasnya di Rusia, tak terdapat satupun gambar yang memperlihatkan terpasangnya pita kuning di badan serta ujung sayap di pesawat-pesawat mereka, padahal ini merupakan marking yang umum digunakan oleh pesawat-pesawat Luftwaffe di Front Timur


Pada permulaan bulan November 1938, Lehr-Verband/Aufklärungsgruppe Jüterbog (Unit Pelatihan/Grup Pengintai Jüterbog) dibentuk ulang menjadi III Gruppe (Aufklärung)/Lehrgeschwader 2. Unit baru ini terdiri dari tiga Staffeln (Staffel 7, 8 dan 9) dan tergabung ke LG-2. Dua Gruppe lain dari LG-2 adalah I (Jagd)/LG-2 dan II (Schlacht)/LG-2. Yang pertama adalah unit pemburu, sementara yang kedua unit pendukung udara ke darat.

 7.(F)/LG-2 mulai beraksi untuk pertama kalinya di Polandia dengan menerbangkan pesawat berjenis Dornier Do-17 P dan M. Setelah Pertempuran Britania berlangsung, barulah unit ini di-upgrade pesawatnya menjadi Messerschmitt Bf-110 C-5. Di fase ini pula lambang unit yang khas, sebuah "Teufelskopf" (Kepala Iblis) kecil, mulai ditempelkan ke pesawat-pesawat kepunyaan mereka. 7.(F)/LG berpangkalan di Grimbergen, Belgia, sampai dengan 12 Februari 1941 ketika dia ditarik dari pertempuran udara melawan Inggris untuk mempersiapkan serangan baru terhadap Yunani dan Yugoslavia.

Pada tanggal 24 Maret 1941, 7.(F)/LG ditransfer ke Krumovo (Bulgaria) melalui jalur Popest (Rumania), dan pada tanggal 2 April berangkat lagi menuju lapangan udara Sofia-Vrazdebna. Disana pesawat-pesawat Bf-110-nya mendapat sentuhan warna kuning sebagai penanda identitas. Warna ini dibalurkan ke bagian hidung, elevator, dan ekor. Pasukan Jerman memulai serbuan ke Balkan tanggal 6 April 1941. Setelah misi di Yunani dan selatan Yugoslavia usai, 7.(F)/LG diikutkan pula dalam operasi pendukung invasi Kreta dari pangkalan mereka di Athena-Kalamaki.

Kampanye di Rusia mengikutsertakan 7.(F)/LG yang beroperasi di bagian selatan dimana, di musim panas tahun 1941, unit ini melakukan misi-misi pengintaian untuk mendukung gerak maju Panzergruppe 1 dengan pesawat-pesawat Bf-110 E-3 dan C-5 (juga beberapa Bf-109 E-6) yang masih tersisa. Pada bulan September 1941, untuk sementara unit ini ditarik dari garis depan dan dikirim ke Breslau untuk beristirahat dan diperlengkapi kembali. Pada bulan Desember tahun yang sama 7.(F)/LG kembali beroperasi, terbang dari Mariupol di Laut Azov, barat Rostov. Pada bulan Februari 1942 dia ditransfer ke Stalino, dan pada bulan Maretnya unit ini dinamai ulang menjadi 7.(H)/LG-2. Pada bulan Mei 1942 dia ditempatkan di bawah komando Stab NAGr-12. Pada bulan November, staffel baru tapi lama ini untuk sementara disatukan dengan 3.(H)/31 untuk membentuk Grup Pengintaian Taktis Fleischmann yang kemudian beroperasi di atas Stalingrad dari pangkalan mereka di Golubinskaya (sebelah utara Kalach). Tanggal 11 Desember 1942 lapangan udara ini harus ditinggalkan demi menghindari gerak maju pasukan Rusia yang semakin mendekat.

Kebanyakan pesawat kepunyaan unit ini kemudian menjadi korban karena hanya beberapa Bf-110 yang bisa diterbangkan. Pada akhir bulan November 1942, 7.(H)/LG-2 dan 3.(H)/31 hanya tinggal mempunyai lima pesawat dalam inventaris mereka, dan pada bulan Januari 1943 jumlah ini menyusut lagi menjadi tiga! Pada akhir bulan Februari 1943, 7.(H)/LG-2 menghilang dari peredaran setelah musnah dalam bencana Pertempuran Stalingrad.

Staffelkapitäne:
Maret 1941 - 29 Oktober 1941: Hauptmann Hans-Eberhard Schäfer
30 Desember 1941 - 36 Maret 1942: Hauptmann Karl-Gustav Schmidt-Kabis
11 Februari 1942 - 26 Mei 1942: Major Paul Lube (juga sebagai komandan NAGr. 9)
Juni 1942 - September 1942: Hauptmann Rudolf von Spankeren
September 1942 - 6 November 1942: Oberleutnant Robert Kneifel
15 November 1942 - Januari 1943: Oberleutnant Richard Clemens


Read more

Selasa, 02 Oktober 2012

Schwere SS-Panzer Abteilung 101/501

Sebuah Königstiger dengan turmnummer 105 yang dikomandani oleh SS-Obersturmführer Jürgen Wessel dari schwere SS-Panzer-Abteilung 501 teronggok tak berdaya Rue Haut Rivage, Stavelot, Belgia, tanggal 18 Desember 1944. Tank raksasa ini ditinggalkan oleh awaknya setelah terkena tembakan senjata anti-tank. Supirnya terpaksa menabrakkannya ke sebuah rumah dan membuatnya tidak berfungsi sebelum ditinggalkan


Schwere SS-Panzer-Abteilung 101 dibentuk bulan Juli 1943 yang anggotanya diambil dari para kader  SS Panzer Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" dan ditempatkan sebagai bagian dari I SS Panzerkorps Leibstandarte Adolf Hitler.

Pada awalnya dia berada di bawah komando 1. SS-Panzer-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" dan dikirim ke Italia bulan Agustus 1943. Dua dari kompinya kemudian dikirimkan ke Front Timur dan tetap berada disana sampai bulan April 1944.

Setelahnya, schwere SS-Panzer Abteilung 101 ditugaskan sebagai bagian dari 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend" dan bertempur melawan pasukan Sekutu di Normandia dengan menderita korban besar.
 
Batalyon tank berat ini lalu dilengkapi dengan tambahan tank-tank dari jenis Panzerkampfwagen VI Tiger II (Köningstiger) bulan September 1944 dan dinamai ulang sebagai schwere SS-Panzer-Abteilung 501.

Schwere SS-Panzer Abteilung 501 ikut bertempur dalam Ofensif Ardennes (Battle of the Bulge) yang gagal sebelum dikirim ke Front Timur sebagai penugasan terakhirnya.
 
 
Komandan 
SS-Sturmbannführer Heinz von Westerhagen (19 Juli 1943 - 8 November 1943)
SS-Obersturmbannführer Karl Leiner (9 November 1943 - 13 Februari 1944)
SS-Obersturmbannführer von Heinz Westerhagen (13 Februari 1944 - 20 Maret 1945)
SS-Sturmbannführer Heinz Kling (20 Maret 1945 - 8 Mei 1945)
 
Wilayah Operasi
Italia (Agustus 1943 - Oktober 1943) 
Front Timur (Oktober 1943 - April 1944) 
Prancis (April 1944 - September 1944) 
Jerman (September 1944 - Desember 1944)
Ardennes (Desember 1944 - Januari 1945) 
Front Timur (Januari 1945 - Mei 1945)
 
Kampanye:
1. Front Barat
 
Tank baru: 51
Transfer masuk: 0
Transfer keluar: 6
Korban: 45
Tipe tank: Tiger I
 
2. Front Barat
 
Tank baru: 37
Transfer masuk: 0
Transfer keluar: 6
Korban: 31
Tipe tank: Tiger II
 
Peraih Medali Bergengsi
Peraih Deutsches Kreuz in Gold (3)
1. Amselgruber, Thomas, 14.02.1945, SS-Untersturmführer d.R., 3./s.SS-Pz.Abt. 501
2. Brandt, Jürgen, 13.01.1945, SS-Oberscharführer, s.SS-Pz.Abt. 501  
3. Rabe, Dr. Wolfgang, 14.11.1944, SS-Hauptsturmführer, s.SS-Pz.Abt. 101
Peraih Deutsches Kreuz in Silber (tidak ada)
Peraih Ehrenblattspange der Waffen-SS (1)
1. Philipsen, Johannes, 15.08.1944, SS-Obersturmführer, 1./s.SS-Pz.Abt. 101
Peraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (1) (1 Schwerter)
1. Wittmann, Michael [71. Sw] 22.06.1944 SS-Obersturmführer Chef 2./s.SS-Pz.Abt 501

Anggota yang menonjol
1. SS-Sturmbannführer Heinrich "Heinz" Kling (umumnya mendapat kredit 51 tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
2. SS-Untersturmführer Karl-Heinz "Bobby" Warmbrunn (umumnya mendapat kredit 57 tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
3. SS-Obersturmführer Helmut Wendorff (umumnya mendapat kredit 84 tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
4. SS-Hauptsturmführer Michael Wittmann (umumnya mendapat kredit 138 tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
5. SS-Oberscharführer Balthazar "Bobby" Woll (umumnya mendapat kredit 100+ tank yang dihancurkan, tapi jumlah pastinya tak diketahui)
 
 
Read more

Senin, 06 Agustus 2012

Deutsche-Arabische Infanteri Bataillon 845, Sukarelawan Arab di Wehrmacht

Panji Freies Arabien yang ditempelkan di lengan

Sukarelawan Arab dengan bendera kebanggan mereka yang bertuliskan kalimat syahadat

Pelatihan Luftwaffe untuk unit terjun payung (Fallschirmjäger) dari Deutsch-Arabische Legion (Sonderverband 287) yang merupakan bagian dari dari Deutsch-Arabische Infanterie-Bataillon 845 tahun 1943 di Mediterania. Dalam foto ini tiga orang prajurit Arab (dua di antaranya dilengkapi dengan MP 40) sedang mencoba motor tandem

Pembagian stielhandgranaten untuk para anggota Legion Freies Arabien di pinggir jalan kereta api di Yunani, 23 September 1943


Ketika Perang Dunia II berkobar, sejumlah tokoh nasionalis Arab berpaling pada Nazi Jerman untuk memperoleh bantuan guna membebaskan negeri mereka dari kekuasaan Inggris serta mencegah pembentukan sebuah negara Yahudi di Palestina. Demi mencapai cita-citanya itu, mereka juga meminta bantuan Hitler untuk membentuk dan mempersenjatai sebuah tentara pembebasan Arab yang akan berjuang bersama-sama pasukan Poros.

Tokoh Arab yang memiliki peranan besar dalam pembentukan formasi-formasi militer Arab yang bertempur di bawah komando kaum Nazi adalah Mufti Besar Yerusalem, Amin al-Husayni (Huseini). Pada tahun 1942, beberapa bulan setelah kedatangannya di Jerman, dengan seizin Hitler dia mulai membentuk apa yang dinamakannya sebagai Al-Mufraza al-Arabia al-Hura. Anggotanya direkrut dari antara para pelajar Arab yang berada di Jerman, para tawanan perang Arab yang ditangkap saat bertugas dengan tentara Sekutu, dan para pelarian yang mengikutinya ke Jerman. Mereka mengenakan seragam standar Wehrmacht yang disulam dengan panji bertuliskan "Freies Arabien" (Arab Merdeka).

Legiun Arab ini dihimpun di bawah komando Deutsche-Arabische Lehrabteilung. Sebagian di antara mereka dikirimkan ke Rusia Selatan untuk membantu Hitler merebut ladang-ladang minyak Irak melalui Kaukasus. Yang lainnya ditugaskan di bawah Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang memimpin Afrikakorps untuk merebut Timur Tengah lewat Mesir. Mereka terlibat pertempuran sengit dengan Tentara Merah Soviet maupun Inggris, menderita korban besar, dan gagal memenuhi ambisi Sang Mufti untuk menjadi pasukan pelopor pembebasan bangsa Arab dari tangan tirani asing.

Pembentukan Batalyon 845
Pada bulan Mei 1943, setelah kekalahan pihak Poros di Tunisia dan penarikan tentara Jerman dari Kaukasus, OKW memerintahkan agar sisa-sisa sukarelawan Arab dari Deutsche-Arabische Lehrabteilung, yang sebagian besar terdiri atas orang Maroko, dihimpun ke dalam sebuah unit baru: Deutsche-Arabische Infanterie Bataillon 845.

Kader batalyon tersebut disusun di kamp pelatihan Döllersheim yang berada di utara Linz, Austria. Pada awalnya, batalyon Arab itu terdiri atas empat kompi. Sekalipun dibentuk sebagai sebuah batalyon infanteri, tetapi salah satu kompinya merupakan sebuah unit pasukan payung! Batalyon itu sendiri terutama dilatih dalam taktik-taktik perang gerilya.

Pada bulan November 1943, setelah menyelesaikan pelatihannya, batalyon Arab tersebut dikirimkan ke Yunani. Tugas awal mereka adalah menjaga jalur kereta api yang vital di sebelah utara Salonika. Batalyon itu berada di daerah di dekat Laut Aegea ini hingga musim semi 1944, dimana mereka kemudian dipindahkan ke Pelopennesus. Disana mereka ditugaskan sebagai satuan pengamanan di bawah komando Divisi Perbentengan Jerman ke-41.

Masalah
Di antara unit-unit Jerman yang bertugas di Yunani terdapat sebuah kesatuan yang ganjil. Di antaranya adalah unit-unit hukuman Angkatan Darat. Banyak di antara anggotanya adalah bekas tahanan politik yang anti-Nazi, yang direkrut karena mesin perang Jerman kekurangan sumber daya manusia untuk mempertahankan dan menjaga wilayah kekuasaannya yang sebegitu luas. Akibatnya, kesetiaan mereka terhadap Hitler sangat diragukan, dan malahan banyak yang membelot ke pihak gerilyawan Yunani.

Sebagai unit pengamanan, Batalyon 845 kadang kala bertugas dengan para prajurit hukuman tersebut. Karena itu, tidaklah mengherankan jika pengaruh buruk para prajurit anti-Nazi itu tersebar pula di kalangan para prajurit Arab. Bahkan terdapat beberapa kasus desersi dalam Batalyon 845. Misalnya, kasus tiga orang prajurit Arab yang melakukan desersi dengan membawa senjata mereka pada bulan November 1943.

Demoralisasi juga melanda para prajurit Arab. Hauptmann von Voss, komandan kompi ke-1 batalyon tersebut, menceritakan beberapa kasus menarik mengenai mentalitas orang-orang Arab itu.

Kisah pertama berhubungan dengan seorang prajurit bernama Ali ben Mohammed. Pada suatu hari, dia mendatangi perwira medis dan meminta agar dirumahsakitkan. Namun setelah diperiksa, si perwira menemukan bahwa Ali benar-benar sehat!

"Mengapa kamu ingin dirumahsakitkan?" tanya perwira itu heran, "kamu kan tidak sakit?"

"Yang lain dirawat di rumah sakit. Kenapa aku tidak bisa?" tukas Ali.

"Kamu sehat, jadi kamu tidak boleh dirumahsakitkan!" bentak si perwira.

Ali berbalik ke arah pintu, yang mempunyai sebuah panel kaca. Dia kemudian membenturkan kepalanya ke panel itu. Berlumuran darah dan dengan pecahan kaca menancap di kulit kepalanya, dia mendatangi perwira medis itu lagi dan berkata, "sekarang saya sudah sakit, bukan?"

Pada kesempatan lainnya dalam suatu latihan, seorang prajurit bernama Mahmood tiba-tiba melemparkan senapannya dan merebahkan tubuh di tanah.

"Ich nicht soldat (saya bukan prajurit)!" jeritnya.

Salah seorang rekannya, yang merasa malu dengan kelakuan Mahmood, mencabut bayonetnya dan menyayat kepalanya sendiri sebanyak lima atau enam kali hingga membuat tulang di bawah kulit kepalanya terlihat!

Sikap menjunjung tinggi kehormatan diri dalam budaya Arab sendiri menimbulkan sejumlah masalah serius di dalam batalyon itu. Pada suatu hari, dua orang Arab mengejek seorang prajurit karena kecenderungan homoseksualnya. Pada malam harinya, prajurit yang diejek itu mengambil senapannya, menempelkannya di belakang telinga salah seorang pengejeknya, dan menarik picunya.

Efektifitas Tempur
Selama bertugas di kawasan pegunungan Helicon di Yunani Selatan, Batalyon 845 membuktikan kemampuannya dalam memerangi gerilyawan ELAS Yunani yang berhaluan Komunis. Berkat pelatihan dan naluri alaminya, para prajurit Arab dengan mudah menyesuaikan diri untuk menghadapi berbagai taktik para gerilyawan. Mereka juga berhasil menangkap beberapa agen Sekutu yang dikirimkan untuk membantu gerilyawan Yunani.

Keberanian para prajurit Arab dalam menantang maut serta menahan rasa sakit juga mengundang rasa kagum dari atasan Jerman mereka. Sekalipun demikian, Hauptmann von Voss juga mengkritik anak buahnya karena kecenderungan mereka untuk menjarah dan memperkosa, terutama selama pertempuran di Kyriaki.

Efektifitas Batalyon 845 membuat komando Jerman berencana untuk meningkatkan kekuatannya. Para sukarelawan tambahan, yang terdiri atas orang-orang Arab yang tinggal di Eropa dan sejumlah tawanan perang Sekutu, dikumpulkan di Zwetll, Cekoslowakia, pada awal September 1944. Namun rencana untuk membentuk sebuah unit baru yang akan ditempatkan pada batalyon tersebut tidak pernah terwujud karena arah peperangan yang semakin merugikan Jerman.

Kekalahan
Menjelang akhir musim panas tahun 1944, pasukan Jerman di Yunani terancam terpotong oleh serangan besar-besaran Tentara Merah yang telah menaklukkan Bulgaria dan Rumania serta sedang bergerak maju memasuki Yugoslavia dan Hungaria. Untuk menghindari bencana itu, pada bulan Oktober 1944 pasukan Jerman mulai menarik diri dari Yunani selatan menuju Yugoslavia. Batalyon 845 sendiri bertugas melindungi penarikan mundur tersebut.

Batalyon 845 mengundurkan diri melalui rute Larissa di Yunani, Bitolj, dan Skoplje di Makedonia, lalu Kraljevo dan Uzice di Serbia. Mereka sempat terlibat pertempuran sengit dengan kaum partisan Yugoslavia untuk memperebutkan Bukit 734 di Uzice. Pada bulan Februari 1945, akhirnya mereka tiba di Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Setelah beristirahat dan direorganisasi, batalyon Arab itu ditugaskan di kawasan antara sungai Sava dan Danube.

Pada bulan Maret dan April 1945, batalyon Arab itu beroperasi di sebelah tenggara Vinkovci di Srem. Pada akhir bulan April mereka ditarik mundur ke Vukovar, sebelum akhirnya ditempatkan di sebelah barat Zagreb, Kroasia. Di tempat itulah riwayat batalyon Arab tersebut berakhir. Mereka menyerah kepada kaum Partisan, yang menempatkan orang-orang Arab itu di sebuah kamp tawanan khusus hingga mereka dibebaskan satu tahun kemudian.


Read more